Indonesia catat inflasi Maret 0,11%

Inflasi secara year on year pada Maret sebesar 2,48 persen merupakan yang terendah dalam 3 tahun terakhir

Indonesia catat inflasi Maret 0,11%

JAKARTA

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada bulan Maret Indonesia mencatatkan inflasi sebesar 0,11 persen secara month to month.

Sementara inflasi secara tahun kalender sebesar 0,35 persen dan inflasi year on year sebesar 2,48 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan angka inflasi ini berdasarkan pantauan pada 82 kota dengan rincian 51 kota mengalami inflasi, dan 31 lainnya mencatatkan deflasi.

“Posisi inflasi Maret tahun ini lebih rendah dari Maret tahun lalu yang sebesar 0,2 persen. Sementara pada Maret 2017 terjadi deflasi -0,02 persen,” urai dia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Suhariyanto menambahkan inflasi secara year on year pada Maret ini merupakan yang terendah dalam 3 tahun terakhir.

Dia menguraikan inflasi year on year pada Maret 2018 sebesar 3,4 persen sementara pada Maret 2017 sebesar 3,61 persen.

“Angka ini (inflasi Maret 2019) menunjukkan inflasi yang terkendali,” ungkap dia.

Suhariyanto menjabarkan lebih lanjut pada Maret tahun ini berdasarkan kelompok pengeluaran makanan dan minuman tidak menyumbangkan inflasi karena pada kelompok ini justru mengalami deflasi -0,01 persen.

Pada kelompok ini terjadi penurunan harga untuk komoditas beras, daging ayam ras, dan ikan segar dengan andil deflasi masing-masing -0,03 persen. Kemudian telur ayam ras memberikan andil deflasi -0,02 persen, serta tomat dan wortel memberikan deflasi 0,01 persen.

Kemudian komoditas yang menyumbangkan inflasi pada kelompok ini adalah bawang merah dengan andil 0,06 persen, bawang putih dengan andil inflasi 0,04 persen, dan cabai merah yang memberikan andil inflasi 0,01 persen.

Suhariyanto menambahkan pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mengalami inflasi 0,21 persen dan memberikan andil pada inflasi Maret sebesar 0,04 persen.

Dia menjelaskan pada subkelompok makanan jadi mengalami inflasi 0,17 persen, subkelompok minuman tidak beralkohol mengalami inflasi 0,39 persen, dan subkelompok tembakau dan minuman alkohol mengalami inflasi 0,17 persen.

Selanjutnya, Suhariyanto mengatakan pada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami inglasi 0,11 persen dengan andil 0,03 persen.

Komoditas yang memberikan andil dominan terhadap inflasi pada kelompok ini adalah tarif kontrak rumah dan upah pembantu rumah tangga sebesar 0,01 persen.

Kemudian, pada kelompok ini juga terdapat komoditas yang memberikan andil deflasi yakni penurunan tarif listrik sebesar 0,01 persen.

Suhariyanto juga menyampaikan pada kelompok sandang mengalami inflasi 0,23 persen dengan andil terhadap inflasi Maret sebesar 0,01 persen.

“Komoditas yang memberikan andil inflasi adalah emas perhiasan sebesar 0,01 persen,” lanjut dia.

Selanjutnya menurut dia, pada kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,24 persen dengan andil terhadap inflasi Maret 0,01 persen. Kemudian pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami inflasi 0,06 persen dengan andil minim terhadap inflasi.

Suhariyanto menambahkan pada kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga mengalami inflasi sebesar 0,1 persen dengan andil 0,02 persen.

Dia menambahkan pada kelompok ini, subkelompok angkutan udara mengalami inflasi sebesar 0,03 persen karena adanya kenaikan harga yang tidak biasa pada Januari hingga Maret. Kemudian pada subkelompok bensin mengalami deflasi -0,01 persen.

“Inflasi Maret lebih disebabkan oleh inflasi inti sebesar 0,16 persen dengan andil 0,09 persen,” jelas Suhariyanto.

Sementara itu, inflasi harga bergejolak mengalami deflasi -0,02 persen dengan andil minim terhadap inflasi. Kemudian harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 0,08 persen dengan andil 0,09 persen terhadap inflasi Maret.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA