Indonesia alami defisit neraca perdagangan terbesar pada April

Defisit neraca perdagangan sebesar USD2,5 miliar karena nilai ekspor yang hanya sebesar USD12,60 miliar sementara nilai impor mencapai USD15,10 miliar.

Indonesia alami defisit neraca perdagangan terbesar pada April

JAKARTA

Kinerja perdagangan Indonesia pada April mengalami defisit dengan nilai yang sangat besar yakni USD2,5 miliar.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), defisit ini terjadi karena nilai ekspor yang hanya sebesar USD12,60 miliar sementara nilai impor mencapai USD15,10 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan defisit ini merupakan salah satu yang terbesar setelah pada Juli 2013 lalu Indonesia sempat mengalami defisit perdagangan sebesar USD2,3 miliar.

“Sepanjang Januari hingga April, defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai USD2,56 miliar,” ungkap dia dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Defisit tersebut akibat nilai impor Indonesia selama empat bulan pertama tahun ini lebih besar dibanding ekspor dengan jumlah USD55,76 miliar sementara nilai ekspor dalam empat bulan hanya USD53,2 miliar.

“Tantangan perdagangan pada tahun ini luar biasa karena ekonomi global melemah,” kata Suhariyanto.

Dia menjelaskan agak sulit bagi Indonesia mendorong ekspor pada saat pertumbuhan negara tujuan ekspor Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Suhariyanto menguraikan pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 6,4 persen pada triwulan I tahun ini, sementara pada triwulan I tahun lalu mencapai 6,8 persen.

Perlambatan juga terjadi di Singapura dari 4,7 persen menjadi 1,3 persen pada triwulan I tahun ini.

“Kita masih beruntung pertumbuhan ekonomi masih menguat saat negara tujuan ekspor melambat, tetapi suka tidak suka akan berpengaruh pada ekspor kita,” ungkap Suhariyanto.

Menurut dia, tidak optimalnya kinerja perdagangan Indonesia ditambah dengan fluktuatif harga komoditas ekspor utama dan juga belum meredanya perang dagang antara AS dan China.

“Dari dalam negeri kita perlu melakukan pembenahan dan pemerintah sudah komitmen memperkuat ekspor dan menekan impor,” tambah dia.

Akan tetapi, Suhariyanto melanjutkan upaya tersebut masih membutuhkan waktu meskipun pemerintah sudah memberikan insentif pada produk ekspor dan diversifikasi pasar ekspor karena pertumbuhan pada negara tujuan ekspor juga belum baik.

“Banyak ekonom yang menyarankan cara yang lebih efektif adalah dengan mengendalikan impor terutama pada barang yang bisa disubstitusi dari dalam negeri,” ucap Suhariyanto.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA