Ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,02% di kuartal III

Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku kuartal III 2019 mencapai Rp4.067,8 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.818,9 triliun

Ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,02% di kuartal III

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III hanya sebesar 5,02 persen (yoy).

Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku kuartal III 2019 mencapai Rp4.067,8 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.818,9 triliun.

Pertumbuhan tersebut melambat bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,05 persen (yoy) dan juga melambat dari pertumbuhan pada kuartal yang sama tahun lalu sebesar 5,17 persen (yoy).

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan bahwa melambatnya pertumbuhan ekonomi ini akibat dari kondisi perekonomian global yang masih penuh ketidakpastian akibat dari masih tingginya tensi perdagangan antara Amerika Serikat dan China serta memanasnya kondisi geopolitik di sejumlah kawasan.

“Kondisi ini berdampak pada perekonomian sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia,” jelas dia di Jakarta, Selasa.

Suhariyanto menambahkan apabila dilihat secara kuartalan, maka perekonomian pada kuartal III sebesar 3,06 persen melambat dari pertumbuhan kuartalan pada kuartal II lalu yang sebesar 4,2 persen dan kuartal III 2018 yang sebesar 3,09 persen.

Sehingga secara kumulatif terhadap kumulatif (c to c), pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,04 persen.

Dia mengatakan walaupun pertumbuhan melambat, namun seluruh lapangan usaha pada kuartal III masih tumbuh seperti industri pengolahan pada kuartal III yang pertumbuhan 4,15 persen (yoy) yang melambat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,35 persen.

Sementara sektor perdagangan juga mengalami pertumbuhan yang melambat dari 5,28 persen pada kuartal III tahun lalu menjadi 4,75 persen pada kuartal III tahun ini.

Begitupun dengan sektor pertanian yang tumbuh melambat dari 3,66 persen (kuartal III 2018) menjadi 3,08 persen (kuartal III 2019).

Suhariyanto mengatakan struktur pertumbuhan ekonomi tidak banyak berubah karena masih didominasi oleh industri pengolahan. Sementara bila dilihat dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,01 persen (yoy).

“Konsumsi rumah tangga masih tumbuh seiring dengan indeks penjualan riil yang masih tumbuh, volume penjualan listrik yang meningkat, dan nilai transaksi kartu debit, kredit, dan uang elektronik yang meningkat,” kata Suhariyanto.

Menurut dia, konsumsi rumah tangga memang melambat dari kuartal II karena saat itu terdapat momentum Lebaran, namun konsumsi rumah tangga kuartal III tahun ini tetapi lebih baik dari kuartal III tahun lalu sebesar 5 persen.

Kemudian untuk komponen pengeluaran lainnya seperti pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga tumbuh 4,21 persen secara tahunan, yang tumbuh melambat dibandingkan kuartal III 2018 sebesar 6,98 persen.

Dia menambahkan konsumsi pemerintah juga hanya tumbuh 0,98 persen (yoy) dibanding kuartal III 2018 di kisaran 6 persen.

“Ekspor hanya tumbuh 0,08 persen dan impor terkontraksi terutama akibat kontraksi pada impor migas,” jelas Suhariyanto.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA