Ekonom: Pasar penerbangan domestik sangat oligopoli

Karena struktur pasar oligopoli ketat ini membuat tarif penerbangan beberapa rute lebih mahal akibat kekurangan maskapai

Ekonom: Pasar penerbangan domestik sangat oligopoli

JAKARTA 

Ekonom Senior Indef Faisal Basri menyebut pasar penerbangan domestik di Indonesia sangat oligopoli ketat karena hanya diisi oleh segelintir pemain.

Akibatnya, Faisal menyebut ada potensi persekongkolan dalam penetapan harga seperti yang terjadi belum lama ini saat tarif penerbangan domestik dikeluhkan masyarakat karena lebih mahal dari penerbangan internasional.

“Apalagi untuk penerbangan domestik per rute, pelakunya sedikit sekali,” ungkap dia dalam diskusi di Jakarta, Senin.

Faisal mencontohkan penerbangan dari Batam menuju Jakarta lebih mahal daripada dari Singapura ke Jakarta karena frekuensi penerbangan dan penyedia penerbangan dari Singapura menuju Jakarta lebih banyak.

Karena struktur pasar oligopoli ketat ini, menurut Faisal, membuat tarif penerbangan beberapa rute lebih mahal akibat kekurangan maskapai.

Dengan begitu, kata dia, pariwisata domestik juga terkena imbasnya karena masyarakat lebih memilih berlibur ke luar negeri.

“Orang lebih memilih terbang ke Bangkok daripada Manado karena tarifnya tidak beda jauh,” ujar Faisal.

Mahalnya tarif penerbangan domestik ini lanjut Faisal, juga agak aneh karena harga minyak dunia turun yang juga berdampak pada turunnya harga avtur sebagai bahan bakar pesawat terbang.

“Bahkan di banyak negara penerbangan domestiknya malah lebih murah daripada internasional,” imbuh dia.

Permasalahan harga tiket penerbangan domestik, menurut dia, juga karena pemerintah menetapkan tarif batas bawah sehingga mengganggu fleksibilitas dan kelangsungan usaha tiap maskapai.

“Pemerintah tidak boleh dikte bisnis (dengan tarif batas bawah) karena tugasnya adalah mengatur standar keselamatan penerbangan,” tambah Faisal.

Pernyataan Indonesia National Air Carrier (INACA) selaku asosiasi maskapai dalam negeri yang memutuskan untuk menurunkan harga tiket penerbangan domestik mulai 11 Januari lalu menurut Faisal, bukan karena dampak dari kebijakan pemerintah, melainkan karena tekanan publik.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA