Ekonom: Margin harga gula domestik dengan internasional semakin lebar

Pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo, margin harga gula dalam negeri adalah 2,6 kali harga gula mentah dunia. Saat ini marginnya sudah 3,7 kali harga gula mentah dunia

Ekonom: Margin harga gula domestik dengan internasional semakin lebar

JAKARTA 

Ekonom menyebut Indonesia kini sudah menjelma menjadi importir gula terbesar di dunia karena besarnya margin harga antara harga gula internasional dan harga gula di dalam negeri.

Ekonomi Senior Indef Faisal Basri mengatakan lonjakan impor gula Indonesia terjadi sejak 2009 yang pada saat itu sebesar 1,4 juta metric ton.

Namun, kata dia, kini angka impor sudah melonjak tajam hingga 4,6 juta metric ton hingga November 2018.

“Saya kaget Indonesia impor gulanya sudah melampaui China dan AS,” kata Faisal dalam diskusi di Jakarta, Senin.

Faisal menuding impor gula meningkat tajam di era Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sejak 2016.

Mulai saat itu, tambah Faisal, impor gula konsisten di angka 4 juta metric ton.

Pemerintah, menurut Faisal, sering berdalih minimnya stok gula untuk menentukan kuota impor. Padahal, stok gula di pabrik ungkap dia, sangat banyak.

Faisal mengungkapkan maraknya impor gula karena margin antara harga gula mentah dunia dengan harga gula kristal putih yang dijual di dalam negeri terus melebar.

Pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo, margin harga gula dalam negeri adalah 2,6 kali harga gula mentah dunia.

“Saat ini marginnya sudah 3,7 kali harga gula mentah dunia,” jelas dia.

Gula yang diimpor Indonesia menurut dia, memiliki kesamaan dengan gula mentah dunia dengan kode nomor 11 yang kemudian diolah menjadi gula rafinasi oleh 11 perusahaan.

Harga gula mentah kode nomor 11 ujar Faisal, sebesar USD282 per metric ton (sekitar Rp3.987.480 dengan kurs Rp14.140).

Harga gula mentah dunia tersebut menurut Faisal setara dengan hampir Rp4 ribu per kilogram, kata dia.

Gula mentah dunia yang diimpor tersebut, menurut dia, diolah dengan biaya pengolahan ditambah ongkos transportasi, asuransi, dan biaya lainnya sekitar USD225 per metric ton sehingga total harga gula impor rafinasi sekitar USD507 per metric ton (Sekitar Rp7.168.980 dengan kurs Rp14.140).

“Maka setelah diolah harga gula rafinasi sekitar Rp7 ribuan per kilogram sementara harga gula di pasar domestik mencapai Rp12.263 per kilogram,” urai Faisal.

Meskipun pemerintah selalu menyatakan gula yang diimpor adalah gula rafinasi untuk kepentingan industri, namun Faisal mengatakan banyak gula rafinasi yang justru merembes ke pasar untuk gula konsumsi.

“Akibatnya, para pedagang tidak ingin membeli gula petani karena harganya mahal sehingga gula produksi lokal tidak terserap,” imbuh dia.

Banyak pedagang yang justru menjual gula rafinasi seharga gula di pasar domestik. Faisal menyebut banyak importir yang melakukan praktik tersebut karena margin yang mereka terima bila hanya menjual gula rafinasi untuk industri sangat kecil.

Para pelaku industri menurut Faisal, sangat paham dengan praktik bisnis yang lazim dilakukan secara internasional dan membeli gula rafinasi dengan harga sebenarnya, sehingga banyak gula rafinasi yang justru dijual sebagai gula konsumsi.

Pada kesempatan yang sama, Ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus menyebut impor gula memiliki efek pahit bagi perekonomian nasional karena membuang-buang devisa.

“Kalau disparitas harga terlalu jauh, manis untuk importir tapi pahit untuk ekonomi nasional,” ketus Firdaus.

Firdaus juga mengungkapkan bahwa impor gula yang menurut pemerintah untuk keperluan industri, justru tidak berdampak positif pada pertumbuhan industri makanan minuman yang banyak membutuhkan gula.

Pertumbuhan industri makanan minuman ungkap dia, justru melambat. Pada triwulan III 2018 tumbuh sebesar 8,1 persen.

Pertumbuhan ini menurut dia, melambat dibandingkan triwulan II yang mencapai 8,67 persen dan juga lebih rendah dari triwulan III 2017 yang mencapai 8,92 persen.

“Harusnya, dengan impor gula ini bisa mendorong industri makanan dan minuman yang padat gula,” tegas dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA