Dubes Indonesia: Turki adalah partner untuk masuk ke kawasan

Turki bisa berperan sebagai sharing partners bagi Indonesia untuk masuk ke Afrika, Balkan dan Timur Tengah, kata Duta Besar Indonesia untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal

Dubes Indonesia: Turki adalah partner untuk masuk ke kawasan

JAKARTA

Presiden Joko Widodo resmi melantik Lalu Muhammad Iqbal menjadi Duta Besar Indonesia untuk Turki yang baru.

Iqbal, begitu diplomat ini akrab disapa, bukanlah wajah baru dalam diplomasi Indonesia.

Wajahnya kerap mewarnai layar kaca dalam pembelaan terhadap hak-hak WNI sebagai Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI.

Iqbal menjelaskan Indonesia dan Turki adalah pemimpin di kawasan masing-masing. Kedua negara dapat menjadi pintu masuk di kawasan untuk memperluas ekspansi ekonomi.

Di tengah hubungan kedua negara yang sedang bangkit, Iqbal menekankan pentingnya membangun confidence building measures antara kedua negara untuk meningkatkan hubungan perdagangan.

Berikut petikan wawancara esklusif Anadolu Agency dengan Lalu Muhammad Iqbal di Kementerian Luar Negeri, Selasa.

Sebagai duta besar yang baru, Bagaimana Anda melihat Turki?

Hubungan antara Indonesia dan Turki adalah hubungan apple to apple. Hubungan antara dua negara besar yang juga antusias. Kedua negara juga leader di kawasan masing-masing dan memiliki size ekonomi yang kurang lebih sama. Di G-20 urutannya beda tipis.

Kalau kita lihat sejarah yang sangat panjang, Indonesia dan Turki tidak hanya mitra, tapi juga sahabat dekat.

Erdogan dan Jokowi sudah saling mengunjungi. Menurut Anda, bagaimana pemerintahan Turki saat ini?

Turki adalah negara yang mengalami kemajuan progresif dalam 10 tahun terakhir. Model yang dilakukan Indonesia sekarang kurang lebih sama dengan yang dilakukan Turki. Kalau kita lihat pada awal tahun 2000-an, Presiden Erdogan fokus melakukan pembenahan infrastruktur.

Itu juga yang dilakukan Presiden Jokowi di Indonesia. Saya kira kedua pemimpin menemukan chemistry mereka karena ada kesamaan visi dan pandangan. Ada kesamaan approach yang itu membuat keduanya mudah sekali membangun hubungan yang sangat dekat. Ini adalah aset yang luar biasa bagi kedua negara dalam membangun kedekatan.

Hubungan ekonomi Indonesia, Turki terus meningkat. Apa target selama Anda menjadi duta besar?

Hubungan ekonomi Indonesia dan Turki pernah sangat tinggi, tapi dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan cukup drastis. Namun demikian, angkanya relatif tinggi. Hanya saja dibandingkan potensi yang ada, nilainya masih sangat rendah. Salah satu aset yang kita miliki adalah Turki sangat antusias untuk bermitra dengan Indonesia baik dalam industri sipil maupun di industri militer.

Seperti apa potensi kerja sama industri militer Indonesia-Turki?

Dalam industri militer, kita sangat mendorong kerja sama antara Turki dan Pindad memproduksi medium tank, yang ditandatangani 2015, tapi di 2018 sudah selesai. Tinggal tahap introduction. Artinya kedua negara pelan-pelan akan menemukan chemistry-nya.

Saya kira kita perlu ada upaya progresif untuk meningkatkan kontak antara pengusaha, birokrasi, dan masyarakat karena ini proses peningkatan confidence building measure.

Ketika kedua negara sudah saling memahami gaya berbisnisnya, saya kira akan terjadi peningkatan hubungan bilateral dalam berbagai sektor.

Upaya apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan perdagangan kedua negara?

Direct contact antara pengusaha dan CEO. Kita bisa memfasilitasi contact antara CEO. Jadi perusahaan-perusahaan di Turki mendapatkan rekan-rekan bisnis di Indonesia yang kredibel. Sebaliknya, perusahaan Indonesia juga mendapatkan counterpart Turki yang kredibel.

Apakah ada upaya mempercepat finalisasi IT-CEPA ?

Saya sempat diskusi dengan Menteri Perdagangan mengenai masalah Indonesia-Turki Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA).

Ada pemikiran sekarang ini untuk membuat progres yang sifatnya implementatif. Jadi tidak harus menjalankan semua klausul yang ada dalam CEPA. Tapi kalau ada klausul yang secara parsial bisa dijalankan, kita bisa fokus ke situ dulu.

Karena menurut pandangan saya, yang dibutuhkan kedua negara saat ini adalah confidence building measures dulu.

Jadi antara pengusaha dan birokrat saling memahami dulu apa yang dibutuhkan dan diinginkan, dan kemudian mengenali bagaimana karakter bisnis orang Turki dan orang Indonesia.

Saya kira ada waktu yang cukup lama di mana hubungan kita di bidang ekonomi relatif vakum. Dan ketika mau bangkit sekarang yang kita butuhkan adalah confidence building measures.

Klausul apa saja dalam IT-CEPA yang bisa dijalankan?

Salah satu yang kita lihat adalah di industri militer karena Turki memiliki pasar industri di Asia. Sementara Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang relatif develop dalam industri militer, sehingga Indonesia bisa menjadi milestone bagi Turki untuk masuk ke Asia Pasifik.

Sebaliknya, Indonesia juga sangat ingin masuk ke Afrika. Pengalaman kita berbisnis di Afrika masih minim dibandingkan dengan Turki. Kita lihat misalnya Turkish Airlines itu memiliki destinasi ke hampir ke semua negara Afrika.

Dan banyak pengusaha Turki yang masuk ke Afrika. Sehingga Turki bisa berperan sebagai sharing partners untuk masuk ke Afrika. Begitu juga di kawasan Balkan dan juga Timur Tengah.

Ini menjadi aset untuk Indonesia, karena Presiden dan Menlu sekarang mencoba menghidupkan kembali Afrika sebagai non traditional market dan diharapkan beberapa tahun ke depan menjadi traditional market-nya Indonesia.

Hubungan Indonesia-Turki kembali bangkit akhir-akhir ini. Apa harapan Anda ke depan?

Kedua negara sama-sama harus bekerja di negaranya masing-masing untuk memastikan bahwa mitra bilateralnya sangat prospektif. Saya rasa Presiden Erdogan adalah presiden dari luar negeri yang paling terkenal di Indonesia saat ini. Dan kita berangkat dari figur beliau bisa menjual Turki di sini untuk menunjukkan bahwa Turki tidak dalam kondisi krisis.

Karena saat saya di DPR pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah apa yang bisa kita lakukan di Turki di tengah krisis yang dihadapi.

Saya selalu sampaikan bahwa jangan lihat Turki saat ini. Lihat Turki tahun 2002. Kalau dilihat tahun itu, maka Turki sedang tidak dalam situasi krisis, justru sedang rising.

Jadi dibandingkan dengan dua tahun lalu, semua negara mengalami up and down. Tapi kalau kita bandingkan bagaimana mereka melakukan titik awal pembenahan, maka sebenarnya mereka dalam situasi yang sangat baik.

Kita juga bisa lihat Indonesia tahun 1998. Saat sedang krisis, kita hampir berada pada titik zero. Dan bandingkan situasi saat itu dengan kondisi saat ini. Indonesia jauh lebih baik.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA