BI tekankan pentingnya reformasi keuangan di forum G20, Jepang

Tensi perang dagang yang kembali meningkat mewarnai diskusi pada pertemuan otoritas keuangan dan moneter tersebut

BI tekankan pentingnya reformasi keuangan di forum G20, Jepang

JAKARTA  

Bank Indonesia dalam pertemuan G20 di Fukuoka Jepang pada 6-9 Juni menegaskan pentingnya untuk melanjutkan agenda reformasi di sektor keuangan untuk memitigasi risiko.

Dalam pertemuan tersebut delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo.

Melalui keterangan resmi, Senin, Dody menyatakan bahwa salah satu upaya yang dilakukan oleh otoritas keuangan Indonesia adalah berupaya melakukan pendalaman pasar keuangan.

Terkait hal tersebut, Bank Indonesia memandang implementasi agenda reformasi sektor keuangan yang beragam di banyak negara perlu menjadi perhatian dan diatasi dengan meningkatkan kerja sama dan berbagi informasi antar otoritas dari negara lain.

“Bank Indonesia juga menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara upaya untuk mendorong perkembangan inovasi di sektor keuangan dengan upaya untuk memitigasi risiko yang dapat ditimbulkan,” ungkap Dody.

Dia menambahkan tensi perang dagang yang kembali meningkat mewarnai diskusi pada pertemuan otoritas keuangan dan moneter tersebut.

Menurut Dody, peningkatan tensi perdagangan tersebut telah berdampak negatif bagi ekonomi global, serta mempengaruhi keyakinan dunia usaha dan investor.

“Bila berlanjut tanpa solusi, tensi perdagangan akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,5 persen, lebih besar dari perhitungan sebelumnya yang hanya sebesar 0,2 persen,” tambah dia.

Lebih lanjut Dody mengatakan dinamika perekonomian global membutuhkan penguatan jaring pengaman sistem keuangan (Global Financial Safety Net).

Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 ini juga membahas agenda prioritas Presidensi G20 Jepang mengenai implikasi populasi yang menua terhadap kebijakan makroekonomi, upaya untuk mengatasi risiko yang ditimbulkan dari ketidakseimbangan global, dan upaya peningkatan pembiayaan infrastruktur melalui penyediaan infrastruktur yang berkualitas.

Bank Indonesia dalam kesempatan tersebut kembali menekankan pentingnya pemahaman terhadap sumber-sumber ketidakseimbangan maupun perlunya melihat ketidakseimbangan dalam cakupan yang lebih holistik dan tidak hanya dari segi current account deficit atau neraca dagang saja, namun juga dari sisi pembiayaan, khususnya melalui aliran modal yang bersifat produktif (FDI).

Dia juga menjelaskan bahwa perekonomian global menunjukkan perkembangan positif pada kuartal pertama tahun 2019, dan diperkirakan akan terus membaik pada tahun 2020, sebagaimana proyeksi pada bulan April 2019.

Meski demikian, trend positif tersebut masih dibayangi beragam faktor risiko yang dapat menyebabkan pelambatan seperti peningkatan tensi perdagangan, belum jelasnya penyelesaian Brexit dan kerentanan di sektor keuangan yang meningkat di tengah rendahnya suku bunga.


TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA