Bank Indonesia: Surplus neraca dagang bisa perkuat ketahanan eksternal?

Pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan harga komoditas yang terus menurun memberikan pengaruh pada kinerja neraca perdagangan Indonesia

Bank Indonesia: Surplus neraca dagang bisa perkuat ketahanan eksternal?

Bank Indonesia memandang positif surplus neraca perdagangan Agustus 2019 yang memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia di tengah kelesuan global.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan harga komoditas yang terus menurun memberikan pengaruh pada kinerja neraca perdagangan Indonesia.

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk prospek kinerja neraca perdagangan,” jelas Onny dalam keterangan resmi, Selasa.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2019 mengalami surplus USD85 juta, setelah pada bulan sebelumnya mencatat defisit USD60 juta.

Surplus tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas sejalan dengan penurunan impor nonmigas.

Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas meningkat disebabkan oleh penurunan kinerja ekspor migas, meskipun kinerja impor migas juga menurun.

Neraca perdagangan nonmigas pada Agustus 2019 tercatat surplus USD840 juta, meningkat dibandingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya sebesar USD80 juta.

“Perkembangan ini dipengaruhi penurunan impor nonmigas, terutama bahan baku/penolong dan barang modal, sejalan dengan aktivitas investasi non-bangunan dan ekspor yang belum kuat,” kata Onny.

Onny mengatakan ekspor nonmigas belum membaik dipengaruhi kondisi perekonomian dunia yang melambat dan harga komoditas yang terus menurun.

Ekspor nonmigas ke negara ASEAN terutama ekspor produk manufaktur yang meningkat, kata dia.

Defisit neraca perdagangan migas pada Agustus 2019 meningkat menjadi sebesar USD760 juta, lebih tinggi dari defisit pada bulan sebelumnya sebesar USD140 juta.

“Kondisi tersebut tidak terlepas dari dampak penurunan ekspor migas sejalan dengan harga minyak yang menurun,” imbuh dia.

Sementara itu, impor migas menurun terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya harga impor baik barang mentah maupun hasil olahan.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA