Bank Indonesia arahkan kebijakan cegah dampak perlambatan ekonomi dunia

Pemangkasan suku bunga acuan dan pelonggaran makroprudensial merupakan kebijakan antisipatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik

Bank Indonesia arahkan kebijakan cegah dampak perlambatan ekonomi dunia

Bank Indonesia mengarahkan kebijakan moneter dan makro prudensialnya untuk mengantisipasi dampak perlambatan ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia.

Seusai rapat dewan gubernur BI 18-19 September 2019, Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI7DRR untuk ketiga kalinya secara beruntun sebesar 25 basis poin menjadi 5,25 persen, disertai dengan rangkaian pelonggaran kebijakan makro prudensial.

Pelonggaran kebijakan makroprudensial tersebut antara lain melalui penyempurnaan Ratio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dan juga pelonggaran loan to value (LTV) untuk pembiayaan properti dan kendaraan bermotor yang akan berlaku mulai 2 Desember mendatang.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pemangkasan beruntun suku bunga acuan dan pelonggaran makroprudensial merupakan kebijakan antisipatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, di tengah ekonomi global yang terus melambat akibat perang dagang AS dan China yang tak kunjung usai.

“Kebijakan ini juga konsisten dengan estimasi inflasi yang tetap rendah di bawah titik tengah sasaran inflasi dan imbal hasil dari aset keuangan domestik yang tetap menarik,” ujar Perry.

Dia menilai ketegangan hubungan dagang AS dan China yang berlanjut dan diikuti risiko geopolitik terus menekan perekonomian dunia dan membuat ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi.

Perry mengatakan perekonomian AS tumbuh melambat akibat penurunan ekspor dan investasi nonresidensial, sementara perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Eropa, Jepang, China, dan India juga berlanjut, dipengaruhi penurunan ekspor dan kemudian berdampak pada penurunan permintaan domestik.

Perekonomian dunia yang melambat telah mendorong harga minyak dan komoditas global kembali menurun, yang kemudian mengakibatkan pada rendahnya tekanan inflasi.

“Kondisi ini direspons banyak negara dengan melakukan stimulus fiskal dan melonggarkan kebijakan moneter,” kata Perry.

Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi telah mendorong pergeseran penempatan dana global ke aset yang dianggap aman seperti obligasi pemeritah AS dan Jepang, serta komoditas emas, meskipun aliran modal ke negara berkembang tetap terjadi.

“Dinamika ekonomi global tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal,” urai dia.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia turut terpengaruh kondisi perekonomian global yang kurang menguntungkan. Perry menjelaskan ekspor diperkirakan belum membaik seiring permintaan global dan harga komoditas yang menurun, meskipun beberapa produk ekspor manufaktur seperti kendaraan bermotor tetap tumbuh positif.

“Bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan pemerintah diperkirakan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ungkap Perry.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini di bawah 5,2 persen namun masih dalam kisaran 5,1 persen dan tahun depan akan tumbuh menjadi 5,3 persen.

Meski begitu, Perry menegaskan bahwa kebijakan BI khususnya dalam penurunan suku bunga tidak terpengaruh oleh kebijakan the Federal Reserve yang juga menurunkan suku bunga ke level 1,75-2 persen.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA