Bank Dunia ungkap risiko dan tantangan ekonomi Indonesia

Indonesia menghadapi risiko penurunan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian kondisi global yang baru

Bank Dunia ungkap risiko dan tantangan ekonomi Indonesia

Bank Dunia mengungkapkan beberapa risiko dan tantangan terhadap perekonomian Indonesia berdasarkan laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Frederico Gil Sander mengatakan Indonesia menghadapi risiko penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi yang meningkat di tengah ketidakpastian kondisi global yang baru.

Menurut dia, dengan kembali meningkatnya ketegangan perdagangan baru-baru ini, ketidakpastian kebijakan perdagangan global kembali meningkat dan menimbulkan risiko bagi perdagangan dunia dan proyeksi pertumbuhan China.

“Perselisihan perdagangan yang berlanjut dapat membebani pertumbuhan regional dan harga komoditas, serta berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi Indonesia dan neraca transaksi berjalan akibat melemahnya ekspor,” urai Sander, dalam diskusi media di Jakarta, Kamis.

Lebih lanjut, dia mengatakan ruang lingkup untuk membatasi impor lebih lanjut menjadi terbatas dan cenderung merugikan pertumbuhan karena investasi membutuhkan impor barang modal.

Sander menilai setelah terjadi pemulihan ekonomi yang solid pada tahun lalu, kini mata uang negara-negara berkembang kembali berada di bawah tekanan karena investor menyeimbangkan portofolio mereka dengan aset safe-haven tradisional seperti US Treasuries sebagai pengganti aset di pasar negara berkembang.

“Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dan biaya pinjaman yang lebih tinggi bisa menghambat pemulihan kredit baru-baru ini dan selanjutnya membebani investasi swasta dan pertumbuhan ekonomi,” lanjut dia.

Dia menambahkan meskipun ada kemajuan terbaru dalam pengurangan kemiskinan di Indonesia, masih ada satu tantangan lainnya yaitu mengurangi ketimpangan antar daerah.

Berdasarkan data Bank Dunia, dari Maret 2018 hingga Maret 2019, terdapat 28 provinsi berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin, sementara di 6 provinsi lainnya terjadi peningkatan, khususnya di kawasan timur Indonesia yang secara signifikan masih tertinggal.

“Jakarta memiliki tingkat kemiskinan terendah pada 3,5 persen, sementara Papua memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di 27,5 persen,” ungkap Sander.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA