Bank Dunia rekomendasikan Asia Pasifik gunakan kebijakan fiskal dan moneter

Negara kawasan tersebut juga akan mendapatkan manfaat dengan terus mempertahankan keterbukaan perdagangan serta memperdalam integrasi perdagangan regional

Bank Dunia rekomendasikan Asia Pasifik gunakan kebijakan fiskal dan moneter

Bank Dunia merekomendasikan negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang memiliki ruang kebijakan yang cukup dapat menggunakan kebijakan fiskal dan moneter untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, sambil menjaga kesinambungan fiskal dan utang.

Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Andrew Mason mengatakan negara-negara di kawasan tersebut juga akan mendapatkan manfaat dengan terus mempertahankan keterbukaan perdagangan serta memperdalam integrasi perdagangan regional.

Mason mengatakan masih berlangsungnya ketegangan dagang AS dan China yang disertai dengan melambatnya pertumbuhan global juga meningkatkan kebutuhan bagi negara-negara di kawasan melakukan reformasi agar produktivitas mereka meningkat dan mendorong pertumbuhan.

“Ini termasuk reformasi peraturan yang meningkatkan iklim perdagangan dan investasi untuk menarik investasi dan memfasilitasi pergerakan barang, teknologi, dan ketrampilan,” urai Mason.

Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober, Mason mengatakan bahwa laporan tersebut memperingatkan risiko penurunan pertumbuhan ekonomi di kawasan telah meningkat.

Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik pada tahun ini sebesar 5,8 persen lebih rendah 0,2 persen dari prediksi sebelumnya pada April lalu.

Sementara prediksi pertumbuhan ekonomi 2020 diperkirakan sebesar 5,7 persen, lebih rendah 0,3 persen dari prediksi April lalu. Kemudian pada 2021 pertumbuhan di kawasan ini diprediksi kembali melambat ke 5,6 persen.

“Ketegangan perdagangan yang berkepanjangan antara AS dan China terus menekan pertumbuhan investasi dan meningkatkan ketidakpastian global,” kata Mason di Bangkok, Kamis.

Menurut dia, perlambatan ekonomi di China yang terjadi lebih cepat dari perkiraan, perkembangan di kawasan Eropa dan AS, serta Brexit yang belum jelas akan dapat melemahkan permintaan eksternal untuk ekspor kawasan.

“Tingkat utang yang tinggi dan meningkat di beberapa negara juga membatasi kemampuan mereka untuk menggunakan kebijakan fiskal dan moneter dalam mengurangi dampak perlambatan,” jelas Mason.

Selain itu, setiap perubahan mendadak dalam kondisi keuangan global dapat berdampak pada biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk kawasan tersebut, mengurangi pertumbuhan kredit, serta semakin membebani investasi swasta dan pertumbuhan ekonomi kawasan.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA