Bank Dunia: Ketegangan dagang sebabkan pertumbuhan Asia Pasifik melambat

Prediksi pertumbuhan ekonomi pada 2019 pada Oktober ini lebih rendah 0,2 persen dari prediksi sebelumnya yang dikeluarkan pada April lalu

Bank Dunia: Ketegangan dagang sebabkan pertumbuhan Asia Pasifik melambat

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik akan lebih lambat dari pertumbuhan 2018 yang sebesar 6,3 persen.

Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa mengatakan pertumbuhan di kawasan tersebut pada tahun ini sebesar 5,8 persen yang kemudian akan berangsur turun menjadi 5,7 persen pada 2020 dan 5,6 persen pada 2021.

Prediksi pertumbuhan ekonomi pada 2019 pada Oktober ini lebih rendah 0,2 persen dari prediksi sebelumnya yang dikeluarkan pada April lalu.

Sementara untuk prediksi pertumbuhan ekonomi 2020 pada Oktober ini juga melambat 0,3 persen dari prediksi Bank Dunia pada April lalu.

Menurut dia, melemahnya permintaan global termasuk dari China dan meningkatnya ketidakpastian dalam ketegangan perdagangan antara AS-China yang sedang berlangsung menyebabkan penurunan ekspor dan pertumbuhan investasi.

“Selain itu, kondisi tersebut juga menguji ketahanan kawasan,” ungkap Kwakwa berdasarkan laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober yang dirilis Kamis.

Dia menambahkan selain China, di kawasan Asia Timur dan Pasifik masih akan terjadi pertumbuhan konsumsi yang tetap stabil, meskipun sedikit lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kwakwa menjelaskan stabilnya pertumbuhan konsumsi ini didukung oleh kebijakan moneter dan fiskal di tiap-tiap negara.

Selain itu, pertumbuhan di ekonomi negara-negara yang lebih kecil di kawasan tersebut tetap kuat yang mencerminkan keadaan spesifik negara, termasuk pertumbuhan yang stabil di sektor pariwisata, real estat, dan ekstraktif.

“Ketika pertumbuhan melambat, maka tingkat penurunan kemiskinan juga melambat,” imbuh dia.

Dia mengatakan bahwa Bank Dunia memperkirakan hampir seperempat penduduk di negara-negara berkembang Asia Timur dan Pasifik hidup di bawah garis kemiskinan kelas menengah atas sebesar USD5,5 per hari.

“Ini mencakup hampir 7 juta orang lebih banyak dari yang kami proyeksikan pada bulan April lalu ketika pertumbuhan kawasan terlihat lebih kuat,” jelas Kwakwa.

Kwakwa menegaskan laporan ini menjelaskan bahwa meningkatnya ketegangan perdagangan menimbulkan ancaman jangka panjang terhadap pertumbuhan kawasan.

“Beberapa negara berharap mendapat manfaat dari konfigurasi ulang lanskap perdagangan global, sementara rantai nilai global yang tidak fleksibel membatasi sisi positif bagi negara-negara di kawasan dalam waktu dekat,” urai Kwakwa.

Sementara itu, Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Andrew Mason mengatakan ketika perusahaan-perusahaan mencari cara untuk menghindari tarif, maka akan sulit bagi negara berkembang di kawasan ini untuk menggantikan peran China dalam rantai pasok global pada jangka pendek, karena infrastruktur yang tidak memadai dan skala produksi yang kecil.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA