Ayam dari Brasil belum diminati importir

Konsumsi ayam masyarakat Indonesia baru mencapai 8 kilogram per kapita per tahun, sementara Malaysia sudah 36 kilogram

Ayam dari Brasil belum diminati importir

Ayam impor dari Brasil diperkirakan tidak akan kompetitif di pasar Indonesia meski cakupan produk tersebut telah perluas, ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana.

“Importir kurang tertarik untuk mengimpor ayam dari Brasil dengan beberapa pertimbangan, seperti jauhnya jarak antara Brasil dan Indonesia sehingga harga pengiriman akan sangat tinggi,” ujar Indrasari Jumat.

Beberapa tahun terakhir, Kementerian Perdagangan memang juga belum pernah mengeluarkan persetujuan impor karena tidak ada pengajuan.

Indonesia sebelumnya telah membuka kran impor ayam dari Brasil setelah kalah dalam sengketa di Dispute Settlement Body, World Trade Organization (WTO).

Indonesia mengakui telah memperbaharui dua kebijakan yang dinyatakan melanggar aturan WTO tersebut.

Kementerian Perdagangan mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 29/2019 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Hewan dan Produk Hewan dengan memperluas cakupan impor ayam termasuk potongan ayam (sayap, paha, dada).

Sementara Kementerian Pertanian menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian No.23/2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor 34/Permentan/Pk.210/7/2016 Tentang Pemasukan Karkas, Daging, Jeroan, dan/atau Olahannya Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan penyesuaian aturan ini tidak berarti memberikan preferensi perdagangan untuk ayam dan produk ayam dari Brasil.

“Meskipun WTO memutuskan Indonesia melakukan pelanggaran, tidak serta merta impor ayam dan produk ayam dari Brasil akan langsung terlaksana,” ujar Menteri Enggar.

“Ini karena kasus sengketa ini tengah memasuki tahap pemeriksaan oleh panel kepatuhan (compliance panel) WTO yang memakan waktu berbulan-bulan.”

Sejak 2009 Brasil berupaya masuk ke pasar produk unggas Indonesia, khususnya ayam dan produk ayam. Indonesia dianggap Indonesia memberlakukan ketentuan dan prosedur yang menghambat masuknya produk tersebut, sehingga mereka malayangkan gugatan ke WTO pada 16 Oktober 2014.

Putusan panel sengketa perkara itu menyatakan empat kebijakan Indonesia melanggar aturan WTO, yakni kebijakan positive list, fixed license term, intended use, dan undue delay.

Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional Herry Dermawan pada Anadolu Agency, mengatakan peternak di Brasil sangat efisien sehingga bisa membuat harga produk sangat murah.

Ongkos produksi pakan ayam yang bisa menghabiskan 70 persen dari total ongkos produksi di negara itu sangat murah, jika di Indonesia harganya mencapai Rp7.500 per kilogram maka di Brasil hanya Rp5.500.

“Karena itu akan menghancurkan peternak lokal. Bahkan bukan karena dumping, tapi memang biaya produksinya sangat murah,” ujar dia.

Dia membantah pernyataan Wisnu tentang ongkos kirim Brasil-Indonesia yang dianggap mahal, “Ongkos kirim paling Rp500 per kilogram, tidak besar,” ujar dia.

Menurut dia, pasar di Indonesia masih sangat menggiurkan dengan konsumsi rata-rata baru pada kisaran 9 kilogram per-kapita per tahun. Padahal Malaysia berada pada rata-rata 36 kg per kapita per tahun.

Dia berharap pemerintah bisa menjelaskan pada Brasil bahwa impor ayam di negara itu akan menghancurkan peternak lokal.

Tapi menurut dia masih ada harapan, karena ayam Brasil yang besarnya mencapai 2 kilogram lebih per ekor mungkin tidak diminati oleh masyarakat Indonesia yang biasa mengonsumsi ayam berukuran lebih kecil.

Selain itu, impor ayam Brasil dalam bentuk beku, kemungkinan tidak diminati masyarakat Indonesia terbiasa mengonsumsi ayam segar.

“Kami juga mengimbau hati nurani para pengusaha tidak mengimpor ayam Brasil.”

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA