Hiks! Profesor "Dikadalin" Lulusan SMP

Pemuda lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Baharudin (26) nekat menipu seorang bergelar Profesor Doktor hingga Rp26 juta. Korban yang berhasil ditipunya ternyata bukan sekedar bergelar pendidikan tinggi, namun Ketua Bidang Investigasi Komisi Yudisial

Hiks! Profesor

BANDUNG, FOKUSJabar.com: Pemuda lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Baharudin (26) nekat menipu seorang bergelar Profesor Doktor hingga Rp26 juta. Korban yang berhasil ditipunya ternyata bukan sekedar bergelar pendidikan tinggi, namun Ketua Bidang Investigasi Komisi Yudisial RI, Prof. Dr. Eman Suparman. Dalam aksinya, pelaku hanya mengirimkan pesan singkat ke nomor ponsel korban. Isi pesan itu, yakni 'Selamat pagi saya Prof. Engkos Kuswarno,  ada undangan Rakernas peningkatan kinerja tenaga pendidikan dari Ditjen Dikti di Hotel Grand Cempaka Semarang pada 11 sampai 12 April 2015 di Hotel Grand Cempaka Semarang untuk Prof. Eman Suparman dengan nomor peserta 9998355. "Bahasa di SMS itu sangat meyakinkan seolah-olah dari Rakernas Dikti, dan mengapa juga saya tidak tanya ke sahabat yang lain," kata Eman di Pengadilan Negeri Kelas 1 A Jalan LLRE Martadinata, Bandung, Selasa (15/9/2015). [caption id="attachment_164248" align="aligncenter" width="735"] Ketua Bidang Investigasi Komisi Yudisial Prof. Dr. Eman Suparman (FokusJabar/Adi)[/caption] Setelah meyakinkan korbannya, pelaku kemudian menginstuksikan korban melalui SMS agar segera ke ATM BNI. Tak banyak bertanya, korban pun mengikuti instruksi pelaku dan mengirimkan uang Rp10 juta ke nomor 9998355 yang sebelumnya digunakan sebagai kode peserta. "Saat itu saya ke ATM (di Majalengka). Bahkan saya tidak sadar kenapa orang mau transfer, tapi saya harus ke ATM, seharusnya kan cukup rekening saja. Saat itu saya sudah seperti dihipnotis," tuturnya. Tidak sampai di situ, pelaku pun kembali menginstruksikan korban untuk mentransfer ke nomor rekening Mandiri a/n Ragil Pujono Rp9,9 juta dan ke nomor rekening 0364755695 sebesar Rp4,9 juta dan terakhir, pelaku meminta pulsa Rp1 juta. "Bagi saya yang sudah bertahun-tahun tidak diundang, ini menjadi pengakuan. Alhasil saya tidak berpikir panjang," jelasnya. Atas perbuatan itu, pelaku Baharudin dijerat pasal 28 ayat 1 jo pasal 45 ayat 2 Undang-undang 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo pasal 55 ayat 1 KUHP. Dalam aksinya, pelaku dibantu rekannya bernama Naharudin. Saat ini Naharudin masih dalam pencarian (DPO). (Adi/LIN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA