Enam Perusahaan di Hulu Cimanuk Diduga Melanggar Dokumen Lingkungan

Enam perusahaan swasta dan satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Perkebunan Provinsi Jawa Barat dinyatakan bersalah terkait dengan tata ruang dan lingkungan hidup hulu Sungai Cimanuk Kabupaten Garut. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Yusri

Enam Perusahaan di Hulu Cimanuk Diduga Melanggar Dokumen Lingkungan

BANDUNG, FOKUSJabar.com : Enam perusahaan swasta dan satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Perkebunan Provinsi Jawa Barat dinyatakan bersalah terkait dengan tata ruang dan lingkungan hidup hulu Sungai Cimanuk Kabupaten Garut. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Yusri Yunus menjelaskan, pihaknya sudah memeriksa di kawasan Darajat dan hasilnya, terdapat kegiatan wisata alam, pemandian air panas, restoran dan penginapan. "Kegiatan usaha itu diduga tidak sesuai dengan pemanfaatan ruang serta tidak memiliki ijin pemanfaatan ruang, serta dalam kegiatan usaha wisata tersebut tidak dilengkapi dengan dokumen lingkungan," kata Yusri, Jumat (5/1/2017). Menurutnya, enam perusahaan itu diduga membangun sarana dan prasarana wisata tidak sesuai dengan perijinan yang tercantum dalam Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). "Dokumen lingkungan juga tidak dilengkapi. Lalu melakukan pengambilan air panas dari sumber mata air panas yang berasal dari kawasan konservasi cagar alam," ujarnya. Enam perusahaan itu melanggar Undang - undang RI nomor 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, undang-undang nomor 5/1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dan Undang - undang RI Nomor 26/2007 tentang penataan ruang. "Keenam perusahaan ini memang melanggar lingkungan hidup termasuk perijinan tata ruang," ujarnya. Penyidik menetapkan status tersangka dikarenakan berdasarkan hasil pengecekan dan pemeriksaan terhadap kawasan perkebunan PT.AJ. "Kegiatan usaha perkebunan ini tidak menerapkan Amdal (analisis dampak lingkungan), UKL/UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup/Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup), dan analisis risiko lingkungan," terangnya. (Adi/Yun)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA