DPRD Sesalkan Perusakan dan Penjarahan yang Dilakukan Oknum Bonek

DPRD Kota Bandung sangat menyesalkan rusaknya fasilitas hingga kios pedagang di komplek SOR Pajajaran Kota Bandung oleh ulah pendukung tim Persebaya Surabaya, Bonek. Hal ini harus jadi pelajaran berharga bagi Pemerintah Kota (Pemkot) dalam memfasilita

DPRD Sesalkan Perusakan dan Penjarahan yang Dilakukan Oknum Bonek

BANDUNG, FOKUSJabar.com : DPRD Kota Bandung sangat menyesalkan rusaknya fasilitas hingga kios pedagang di komplek SOR Pajajaran Kota Bandung oleh ulah ‎pendukung tim Persebaya Surabaya, Bonek. Hal ini harus jadi pelajaran berharga bagi Pemerintah Kota (Pemkot) dalam memfasilitasi pihak lain. ‎Wakil Ketua DPRD Kota Bandung Edwin Senjaya menuturkan, akibat dari ulah Bonek, beberapa pihak pun merasa dirugikan. Padahal, Pemkot Bandung, hingga warga Kota Bandung sudah menyambut baik hingga mengakomodir segala keperluan Bonek selama beberapa hari di Kota Bandung. Ribuan Bonek sendiri datang ke Kota Bandung dalam rangka mengawal Kongres Tahunan PSSI yang salah satu agendanya membahas status keanggotaan Persebaya Surabaya. "Mereka kan sudah diperlakukan baik oleh pemerintah begitu pun oleh Bobotoh yang telah menganggap mereka sebagai saudara. Seharusnya perilaku-perilaku yang merugikan bisa dihindari. Ini sangat kami sesalkan," ujar Edwin saat ditemui di Graha DPRD Kota Bandung, Jalan Sukabumi Kota Bandung, Selasa (10/1/2017). Kondisi seperti ini, lanjutnya, harus menjadi pelajaran berharga bagi Pemkot Bandung. Pasalnya, kerugian materi tak hanya dirasakan pemerintah namun sejumlah pedagang di komplek GOR Pajajartan yang menjadi korban tindakan tidak terpuji oknum Bonek. "Yang rusak itu kan bukan hanya sarana umum, tapi juga properti perorangan. Pemkot Bandung haruis mengkaji ulang jika harus melibatkan Bonek ataupun pihak-pihak seperti Bonek. Apakah itu diperketat atau melakukan koordinasi yang lebih baik lagi," tegasnya. Sementara terkait tuntutan ganti rugi yang dilayangkan pedagang di komplek GOR Pajajaran, ‎Edwin menilai akan cukup sulit direalisasi. Pasalnya, para bonek ini datang tidak resmi dan tidak jelas koordinatornya. "Kalau pedagang mau menuntut ganti rugi atas apa yang telah dialami,‎ siapa yang mengganti? Bonek ini kan datang perorangan, gak resmi dan gak jelas juga siapa yang koordinir. Boro-boro diminta ganti rugi, buat makan saja mereka gak mikir. Saya pikir sulit lah," pungkasnya. (Ageng/Bam's)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA