Demiz: Dalam Olahraga, Sportivitas Segalanya

Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar menegaskan, olahraga harus bisa menginspirasi masyarakat pendukungnya untuk berlaku sportivitas. Kemenangan dalam sebuah pertandingan yang menjadi tujuan utama jangan sampai meninggalkan kemanusiaan. Hal tersebut

Demiz: Dalam Olahraga, Sportivitas Segalanya

BANDUNG, FOKUSJabar.com : Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar menegaskan, olahraga harus bisa menginspirasi masyarakat pendukungnya untuk berlaku sportivitas. Kemenangan dalam sebuah pertandingan yang menjadi tujuan utama jangan sampai meninggalkan kemanusiaan. Hal tersebut diungkapkan Deddy Mizwar, seiring dengan terus terulangnya kericuhan antar suporter olahraga hingga menimbulkan korban nyawa. Dan hingga saat ini, sudah 54 orang yang meninggal sia-sia akibat kericuhan antar suporter sepakbola sejak perhelatan Liga Indonesia tahun 1993/1994. "Dalam olahraga, sportivitas harus berada diatas segalanya. Bukan sekadar mengejar kemenangan dari klub yang didukung tapi justru ada sisi kemanusiaan yang ditinggalkan, menghinakan saudara sendiri, hingga merendahkan saudara sebangsa kita sendiri. Ada hal yang lebih besar tentang kebangsaan dibandingkan dengan hanya sebuah pertandingan sepakbola," ujar wakil gubernur yang akrab disapa Demiz, Rabu (9/11/2016). Untuk itu, Demiz pun berharap ada upaya konkrit yang dilakukan oleh para stakeholder sepakbola dalam menata liga di Indonesia. Mulai dari asosiasi, operator liga, klub, pemain, hingga suporter itu sendiri. "Jadi kalau ada kericuhan suporter, klubnya pun seharusnya kena punishment karena membiarkan suporternya berlaku seperti itu. Disamping penegak hukum yang harus bertindak tegas melarang suporter masuk ke stadion saat klubnya bermain jika berlaku tidak baik," tambahnya. Selain itu, lanjut Demiz, seharusnya sepakbola bisa meredam semua pertentangan yang terjadi, pertikaian, hingga intrik politik. Hal itu berkaca dari pelaksanaan Piala Dunia 2002 yang digelar di dua negara, Jepang dan Korea Selatan. Pada pelaksanaan Piala Dunia 2002 tersebut, semua pertentangan di antara kedua negara, pertikaian hingga intrik politik bisa diredam dengan perhelatan tersebut. "Apa karena kita belum punya PSSI yang tangguh juga ya, ini analisis saya. Kalau kita punya PSSI yang tangguh dan kuat, selesai nih masalah. Tidak ada lagi perselisihan. Ngapain juga kita membunuh orang, merendahkan orang dan mengembangkan primordialisme. Harusnya sama seperti saat mendukung tim nasional, semua daerah datang. Tidak ada lagi tuh Persib, Persija, Arema, atau klub lainnya. Yang ada itu Indonesia, merah putih," pungkasnya. Sebelumnya, tim Litbang SOS (Save Our Soccer) merilis hasil riset yang dilakukannya. Berdasarkan hasil riset tersebut, tercatat sudah ada 54 nyawa suporter yang melayang karena pertandingan sepakbola. Data ini dihimpun sejak perhelatan Liga Indonesia tahun 1993/1994. Dari jumlah tersebut, 51 korban meninggal berasal dari suporter klub. Sementara tiga lainnya merupakan suporter timnas Indonesia. Tim Persebaya Surabaya menjadi tim yang paling banyak kehilangan nyawa para suporternya yakni sebanyak 12 nyawa. Posisi kedua ada Aremania yang kehilangan tujuh nyawa. Lalu suporter Persib Bandung sebanyak empat orang. Khusus di tahun 2016, Litbang SOS mencatat sudah enam nyawa melayang. Mulai dari M. Fahreza (The Jakmania), Stanislaus Gandhang Deswara (BCS, Sleman), Naga Reno Cenopati (Singamania), M. Rovi Arrahman (Bobotoh), sampai Gilang dan Harun Al Rasyid Lestaluhu (The Jakmania). (Ageng/Yun)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA