Demi Kuliah, Remaja Garut Ini Rela Jualan Tahu di Kota Bandung

Semangat pantang menyerah remaja asal Garut, bisa jadi contoh remaja pada umumnya. Hanya ingin kuliah, remaja 19 tahun ini nekad rela berjualan menjadi tukang Tahu di Kota Bandung. Tak ada seorang pun yang meyakini bahwa ramaja ini adalah seorang pria s

Demi Kuliah, Remaja Garut Ini Rela Jualan Tahu di Kota Bandung

BANDUNG, FOKUSJabar.com : Semangat pantang menyerah remaja asal Garut, bisa jadi contoh remaja pada umumnya. Hanya ingin kuliah, remaja 19 tahun ini nekad rela berjualan menjadi tukang Tahu di Kota Bandung. Tak ada seorang pun yang meyakini bahwa ramaja ini adalah seorang pria sederhana, sifatnya yang lugu mampu menandakan dirinya sedang belajar menapaki proses hidupnya. Rabu (30/11/2016) sekitar pukul 15.30 WIB, nampak jongko dagangan tempat remaja Garut mengais rezeki mulai ramai pembeli. Dari anak sekolah, orangtua hingga para pejalan kaki menyempatkan diri untuk membeli Tahu Crispy yang dijual di sekitar Jalan Ciagra, Buah Batu Bandung. Kepolosanya pun terpancar saat melayani para pembeli. Sesekali dia harus menunggu lama barang jualanya itu laku. Namun, kegigihan remaja satu ini bisa jadi cerminan generasi bangsa yang kini sedang mencari jati dirinya. FOKUSJabar.com mencoba menyambangi jongkonya. Dia terlihat tengah merapikan Tahu yang sebelumnya telah dia goreng menggunakan resep racikannya. Baju hitam kusut, berselendang tas kecil menghiasi pundak rapuhnya itu, dia kenakan sebagai pakaian selama bekerja. Diketahui remaja ini berasal dari Rancabuaya, RT 03/04, Girimukti, Garut Selatan. Dia adalah Muhammad Abdul Rohman, anak bungsu dari 3 bersaudara pasangan Cahrim, (52) dan Enung (46). Dia mengaku, berjualan untuk mencari modal melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Bahkan dia bertekad memberikan sebagian penghasilannya kepada kedua orangtuanya. Tetapi untuk saat ini belum bisa terpenuhi lantaran beban biaya hidup sehari-hari masih pas-pasan. "Saya bekerja jadi tukang tahu baru 5 bulan diajak Paman. Alhamdulillah, sekarang bisa bekerja meski gaji pas-pasan," ungkapnya. Dia menerangkan, bekerja menjadi tukang jualan tahu bukan harapannya. Bermodal ijazah sekolah menengah atas dia selalu bermimpi untuk kuliah. Tapi dia sadar, ayahnya yang hanya berpenghasilan sebagai buruh tani dan ibunya seorang ibu rumah tangga, Abdul mengurungkan niatnya untuk sekolah. "Kalau punya uang, saya ingin kuliah. Tapi garis nasib saya jadi tukang tahu, saya pun ingin merubah nasib baik dengan menyisihkan gaji per bulannya," beber Abdul. Gaji R1 juta per bulan dipandang belum cukup untuk biaya makan dan sewa kos-kosan. " Setiap hari saya harus bangun pagi mempersiapkan bahan tahu yang siap jual. Pukul 09.00 WIB mangkal hingga pukul 22.00 WIB. Begitulah keseharian saya," ceritanya. Kini dia sangat menggantung hidupnya dari hasil jualan tahu. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat ini. Bahkan dia menabung meski belum seberapa. "Apabila uang terkumpul, tekad saya bulat untuk biaya sekolah. Dengan tahu ini menjadi jembatan saya untuk mengejar mimpi," pungkas dia. (BOIP/Bam's)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA