Angka Pernikahan Dini di Bandung Barat Masih Tinggi

BP3AKB Bandung Barat mencatat, angka pernikahan dini di Kabupaten Bandung Barat masih tinggi. Tahun 2015 dan 2016, pernikahan usia dibawah 19 tahun mencapai 12.645 perkawinan. Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, BP3AKB KBB, Edri S

Angka Pernikahan Dini di Bandung Barat Masih Tinggi

BANDUNG BARAT, FOKUSJabar.com : BP3AKB Bandung Barat mencatat, angka pernikahan dini di Kabupaten Bandung Barat masih tinggi. Tahun 2015 dan 2016, pernikahan usia dibawah 19 tahun mencapai 12.645 perkawinan. Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, BP3AKB KBB, Edri Suherman mengungkapkan, tahun 2015 angka perkawinan dini berjumlah 7.884 dan  2016 berjumlah 4.759 perkawinan. " Untuk  jumlah 2016, itu kita dapatkan dari KUA. Namun kemungkinan jumlah tersebut bisa lebih banyak lagi mengingat belum mendata langsung ke lapangan seperti pada 2015 lalu. Yang pasti tingkat tingginya angka pernikahan dini,  memang menjadi pekerjaan rumah yang harus ditekan secara serius," kata Edri di Ngamprah, Selasa (17/1/2017). Edri menyebutkan, sejumlah Kecamatan di wilayah selatan seperti Gununghalu, Cipongkor, Sindangkerta dan Rongga menempati posisi teratas dalam menyumbang angka pernikahan dini. Diaa mengatakan, faktor yang mempengaruhi realitas tersebut adalah faktor sosial dan budaya masyarakat, tingkat pendidikan, ekonomi, geografis atau wilayah serta faktor psikologi keluarga. Adapun penyebab lainnya adalah faktor pola pikir masyarakat perdesaan. "Biasanya ini tekanan dari orang tua, karena ketika orang tua ingin melepaskan anaknya dari beban tanggung jawab ekonomi, maka  mereka ini memilih cepat-cepat menikahkannya. Namun yang menjadi ironis, seperti di Rongga, ada anak perempuan yang menikah saat berusia 12 tahun," katanya. Selain di wilayah selatan,  rata-rata di seluruh kecamatan di KBB angka pernikahan dini pun masih tergolong tinggi. Bahkan, untuk Kecamatan Lembang dan Padalarang angka pernikahan dibawah usia 20 tahun masih tinggi. "Untuk di perkotaan faktor pergaulan bebas dan lemahnya kontrol keluarga atau peran orangtua juga masih menjadi faktor yang paling dominan, sehingga pergaulan remaja usia dini didaerah tersebut berujung ke pelaminan," kata Edri. Edri mengatakan, untuk menekan angka pernikahan usia diri, pihak BP3AKB telah membentuk salah satu organisasi Pusat Informasi Konseling Remaja (PIKR). Tujuannya untuk mengajak anak-anak remaja terlibat dalam pendewasaan usia perkawinan. "Para anak remaja khususnya di wilayah selatan harus diberikan kesibukan, sehingga setelah lulus SMP atau SMA anak-anak ini bisa mempunyai aktivitas yang positif," katanya. (Tri/Bam's)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA