Turki, Rusia dan Iran dukung kedaulatan Suriah

Dalam pernyataan bersama yang dirilis setelah KTT Ankara, ketiga negara sepakat untuk berupaya memastikan keamanan dan stabilitas Suriah

Turki, Rusia dan Iran dukung kedaulatan Suriah

ANKARA

Para pemimpin Turki, Rusia dan Iran pada Senin menegaskan komitmen kuat terhadap kedaulatan Suriah dalam sebuah pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan trilateral tentang Suriah.

"Para Presiden menekankan komitmen kuat mereka pada kedaulatan, kemerdekaan, persatuan dan integritas teritorial Republik Arab Suriah serta tujuan dan prinsip-prinsip Piagam PBB," demikian bunyi pernyataan itu.

Pernyataan itu dirilis setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Iran Hassan Rouhani bertemu di ibu kota Turki, Ankara, untuk kelima kalinya guna membahas situasi di Suriah.

Menurut pernyataan itu, para pemimpin membahas situasi di timur laut Suriah dan meninjau perkembangan setelah pertemuan terakhir mereka di Sochi pada 14 Februari 2019, serta menegaskan kembali tekad mereka untuk meningkatkan koordinasi trilateral sesuai perjanjian.

"Konflik Suriah hanya dapat diselesaikan melalui proses politik yang difasilitasi PBB, dipimpin dan dimiliki oleh Suriah sesuai dengan Resolusi 2254 Dewan Keamanan PBB," kata para pemimpin.

Ketiganya juga menolak semua upaya untuk menciptakan realitas baru di tanah di Suriah dengan dalih memerangi terorisme, merujuk pada dukungan Amerika Serikat terhadap teroris YPG/PKK, yang seolah-olah dilakukan untuk memerangi Daesh (ISIS).

Pernyataan itu juga menyuarakan tekad tiga negara untuk menentang agenda separatis yang bertujuan merongrong kedaulatan dan integritas wilayah Suriah serta mengancam keamanan nasional negara-negara tetangga.


‘Sepenuhnya mengimplementasikan perjanjian Idlib’

"Para presiden meninjau secara rinci situasi di area eskalasi Idlib dan menggarisbawahi perlunya menghormati ketenangan di lapangan dengan sepenuhnya mengimplementasikan semua perjanjian tentang Idlib, pertama dan terutama Memorandum 17 September 2018," kata pernyataan itu.

Pada September lalu, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi, di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.

Namun, rezim Suriah secara konsisten melanggar ketentuan gencatan senjata dan kerap meluncurkan serangan di dalam zona de-eskalasi.

Zona tersebut saat ini dihuni oleh sekitar 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu orang yang terlantar dalam beberapa tahun terakhir akibat serangan pasukan rezim di seluruh negara.

"Para pemimpin juga mengecam keputusan AS mengakui Dataran Tinggi Golan yang diduduki Suriah sebagai wilayah Israel, yang selain melanggar hukum internasional juga mengancam perdamaian dan keamanan regional," kata pernyataan itu.

Turki menjadi tuan rumah KTT trilateral ke-5 tentang Suriah dalam format Astana.

Sebelum pertemuan itu, Erdogan bertemu dengan Putin dan Rouhani di Istana Cankaya, Ankara.

KTT ini bertujuan untuk menilai perkembangan terbaru di Suriah, khususnya kota Idlib, mengakhiri iklim konflik, memastikan kondisi yang aman bagi pemulangan para pengungsi secara sukarela, mencapai gencatan senjata abadi dan solusi politik untuk kekacauan Suriah.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA