Turki, AS luncurkan penerbangan pengintaian pertama

Penerbangan menunjukkan komitmen untuk mengatasi masalah keamanan Turki di perbatasan selatan, kata Pentagon

Turki, AS luncurkan penerbangan pengintaian pertama

WASHINGTON

Pemimpin militer Amerika Serikat dan Turki meluncurkan penerbangan pengintaian pertama pada Sabtu.

Juru Bicara Pentagon Sean Robertson mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa dua jenderal dari masing-masing negara, terbang dengan helikopter yang sama.

"Tonggak sejarah ini menyusul pendirian pusat koordinasi bersama awal pekan ini," kata Robertson dalam sebuah pernyataan melalui email.

Pentagon mengungkapkan bahwa penerbangan itu menunjukkan komitmen AS untuk mengatasi masalah keamanan Turki di perbatasan selatannya.

Pernyataan itu juga menegaskan kembali tekad AS untuk menjaga keamanan di timur laut Suriah sehingga Daesh tidak dapat muncul kembali.

"Penerbangan helikopter bersama pertama antara kedua sekutu NATO itu memungkinkan koalisi dan mitra AS untuk tetap fokus pada pencapaian kekalahan abadi Daesh," tambah pernyataan itu.

Dalam sebuah percakapan melalui telepon pada Rabu, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar dan Menteri Pertahanan AS Mark Esper setuju untuk meluncurkan fase pertama dari rencana zona aman Suriah pada 21 Agustus.

"Akar mengatakan zona aman di sebelah timur Sungai Eufrat harus dibentuk dalam kerangka prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam kalender tanpa penundaan," kata Kementerian Pertahanan Turki dalam sebuah pernyataan.

Kedua menteri pertahanan juga sepakat bahwa delegasi militer dari kedua negara akan bertemu di Ankara segera untuk membahas tahap selanjutnya dari rencana zona aman.

Pejabat militer Turki dan AS mencapai kesepakatan pada 7 Agustus bahwa zona aman di Suriah utara akan berfungsi sebagai koridor perdamaian bagi warga Suriah yang terlantar dan ingin pulang ke rumah mereka.

Kedua negara juga sepakat untuk mendirikan Pusat Operasi Bersama di Turki untuk mengoordinasikan pembentukannya.

Sejak 2016, operasi Perisai Eufrat dan Ranting Zaitun Turki di Suriah barat laut telah membebaskan wilayah tersebut dari teroris YPG/PKK dan Daesh, termasuk wilayah Al-Bab, Afrin dan Azaz.

Operasi tersebut memungkinkan warga Suriah yang melarikan diri dari kekerasan di sana untuk pulang ke rumah.

Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang diakui sebagai kelompok teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita dan anak-anak.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA