Rusia khawatir langkah Iran kurangi komitmen untuk perjanjian nuklir

Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan negaranya mengambil langkah keempat terkait pengurangan komitmen tehadap Perjanjian Nuklir

Rusia khawatir langkah Iran kurangi komitmen untuk perjanjian nuklir

MOSKOW 

Juru bicara Istana Kremlin Rusia Dmitriy Peskov mengatakan pihaknya khawatir atas niat Iran untuk mengurangi komitmennya terhadap perjanjian nuklir.

Jubir Peskov memberikan penilaiannya kepada wartawan tentang pengumuman Iran mengambil langkah keempat untuk mengurangi komitmennya terhadap Joint Comprehensive Plan of Action yang juga dikenal dengan sebutan kesepakatan nuklir Iran.

Peskov menuturkan pihaknya berusaha memahami pendekatan Iran terhadap sanksi yang ditujukan terhadap negara itu.

"Kami juga memahami kekecewaaan Iran terhadap sanksi yang belum pernah dilakukan sebelumnya kepada Iran. Sanksi yang dijatuhkan kepada Iran adalah ilegal," tutur Peskov.

"Kami mengamati dengan kekecewaan mengenai perkembangan dari perjanjian tersebut, karena pembatalan rencana komprehensif itu tentu saja tidak baik," kata Peskov.

Presiden Iran Hassan Rouhani pada Selasa mengumumkan negaranya mengambil langkah keempat terkait pengurangan komitmen tehadap Perjanjian Nuklir mulai Rabu ini, lantaran negara-negara Eropa belum memenuhi perjanjian mereka.

Reaktor nuklir Fordo di kota Qom akan memulai aktivitas menginjeksi gas ke dalam 1.044 Tabung Centrifuge.

Sudah setahun berlalu AS menjatuhkan sanksi yang menargetkan sektor minyak yang telah menjadi jantung ekonomi Iran.

Ekspor minyak Iran mulai menurun dengan drastis ketika AS pada 2 Mei tahun ini mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada negara dan perusahaan yang terus membeli minyak dari Teheran.

Setelah sanksi AS tersebut, volume impor minyak dua negara pelanggan terbesar Teheran, India dan China, menurun secara signifikan.

Meski begitu, Iran masih terus mengekspor minyak ke luar, terutama ke China, namun mereka kini harus merahasiakan pengiriman minyaknya ke luar negeri.

India diperkirakan masih akan terus mengimpor minyak dari Iran dalam jumlah yang kecil.

Meski negara-negara Uni Eropa (UE), Jepang dan Korea Selatan menentang sanksi AS tersebut, namun negara-negara ini telah menghentikan pembelian minyak dari Iran sepenuhnya akibat ancaman dari AS.

Pada Mei 2018, Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik negaranya dari perjanjian nuklir penting yang ditandatangani pada 2015 antara Iran dan kelompok negara P5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman).

Sejak itu, pemerintahan Trump memulai kampanye diplomatik dan ekonomi untuk menekan Iran agar bisa membawa negara itu kembali ke perundingan untuk membahas soal program nuklir dan kegiatan lain yang dianggap tidak stabil.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA