RCEP belum akan meninggalkan India dari perundingan

Negara-negara yang berpartisipasi dalam RCEP akan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan oleh India dengan cara yang saling menguntungkan

RCEP belum akan meninggalkan India dari perundingan

Sebanyak 15 negara dalam perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) telah menyepakati negosiasi berbasis teks (text-based negotiation) yang berisi 20 bab dan isu esensi akses pasar dan hanya menyisakan India yang belum sepakat.

Dalam pernyataan bersamanya, para pemimpin dalam KTT ketiga RCEP di Bangkok menyebutkan setelah ini akan dilakukan tahap legal scrubbing untuk ditandatangani dalam pertemuan KTT ASEAN di Vietnam pada 2020.

Ke-15 negara yang telah menyepakati text-based negotiation tersebut antara lain 10 negara ASEAN, China, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.

Sementara India masih memiliki masalah signifikan yang belum terselesaikan.

Namun, ke-15 negara yang berpartisipasi dalam RCEP akan bekerja sama menyelesaikan masalah tersebut dengan cara saling menguntungkan.

“Keputusan akhir India akan tergantung pada solusi yang terbaik dari masalah tersebut,” bunyi pernyataan bersama tersebut di Bangkok, Senin.

Sementara itu, Ketua Komite Perundingan RCEP Iman Pambagyo mengatakan RCEP masih belum meninggalkan India dari perundingan yang melibatkan 16 negara tersebut.

“Mandat yang diberikan ke saya adalah untuk perundingan 16 negara, sampai ada keputusan seperti apa di tahun depan,” jelas Iman di Bangkok, Senin.

Iman meminta pernyataan bersama tersebut tidak dimaknai bahwa ke-15 negara akan jalan terus dalam perundingan lalu meninggalkan India.

“Sama sekali tidak,” tegas Iman.

Menurut Iman, Kepala negara ASEAN, Australia, Selandia Baru sudah selesai dengan perundingan teks dan fokus pada perundingan akses pasar.

“Tapi, bersamaan dengan itu, kita akan coba membantu India untuk bisa menyelesaikan sensitivitasnya yang masih ada,” ucap Iman.

Dia menjelaskan sebenarnya pada tingkat negosiator telah tercapai kesepakatan termasuk India.

Namun, kata dia, India berubah sikap untuk kembali memikirkan kesepakatan yang sudah terjalin.

Menurut Imam, masih ada beberapa poin dalam perundingan yang saat dibawa ke New Delhi, ternyata belum ada kesesuaian antara kebijakan domestik India dengan kesepakatan RCEP.

“Kita hormati India yang masih menghadapi kesulitan terutama terkait kesesuaian teks yang sudah kita selesaikan dengan beberapa kebijakan domestik India,” jelas Iman.

Menurut dia, hal yang menjadi perhatian India salah satunya terkait bab investasi yang sudah disepakati bahwa obligasi yang ada dalam bab tersebut hanya mengikat dua level pemerintahan seperti setingkat pemerintah pusat dan provinsi saja.

“India ini punya yang disebut panchayat atau komunitas tingkat bawah yang ada lebih dari 3600. Kalau panchayat dibawa ke teks negosiasi, ini repot,” kata Iman.

Iman mengatakan RCEP tetap terbuka bagi India, yang apabila ingin menyelesaikan masalahnya, negara anggota RCEP siap duduk bersama-sama membantunya.

Dia juga menegaskan India tetap menjadi bagian dari RCEP dan akan tetap berada dalam perundingan mendatang tahun 2020 dan belum ada pernyataan bahwa India keluar dari perundingan RCEP sehingga proses perundingan masih akan tetap berjalan dengan 16 negara.

- Perundingan alami kemajuan, walau berat

Iman menjelaskan pada dasarnya perundingan RCEP ini sudah mengalami banyak kemajuan yang pada tahun lalu di Singapura hanya menyepakati 7 bab, kini sudah sudah 20 bab.

“Kemudian perundingan akses pasar kita dorong terus sehingga pada saat kita melapor ke menteri, statusnya 82,6 persen perundingan akses pasar sudah selesai, tinggal sedikit lagi,” kata Iman.

Iman mengatakan hal tersebut mendapatkan apresiasi dari para kepala negara dan mereka banyak berterima kasih kepada Indonesia karena sejak 2013 sudah berperan jadi Koordinator ASEAN untuk perundingan RCEP dan juga Ketua Komite Perundingan RCEP yang mengelola 16 negara.

RCEP pada awalnya digagas pada 2011 di Indonesia sebagai ketua ASEAN saat itu yang salah satu tujuannya mengkonsolidasikan Free Trade Agreement (FTA) ASEAN dengan negara-negara mitranya.

“Tapi prosesnya tidak mudah yang pada tahun 2015 diharapkan selesai, tapi tertunda karena masalah utamanya di antaranya 6 partner ASEAN ada yang belum punya FTA dan RCEP ini menjadi FTA pertama bagi mereka,” kata Iman.

Menurut dia, permasalahan utama terletak pada India yang belum memiliki FTA dengan China sehingga India sangat berhati-hati karena ada kekhawatiran pasar mereka akan semakin dibanjiri produk China.

Iman menjelaskan India sulit berunding dan memberikan komitmen karena setiap tahun mengalami defisit perdagangan USD153-158 miliar dengan China.

Iman mengatakan para negara RCEP memahami beratnya beban yang dialami India.

Karena kondisi tersebut, kata Iman, India sangat hati-hati dalam perundingan sehingga membuat proses perundingan RCEP sulit untuk didorong.

“Tapi bukan berarti karena itu, yang lain jadi tertahan dan tidak bisa progresif dalam perundingan sehingga kita coba menavigasi,” ungkap Iman.

Iman mengatakan saat ini 20 bab perundingan sudah selesai dan ke depannya tinggal menyelesaikan perundingan akses pasar yang sudah 82,6 persen selesai dan ada sekitar 3,6 persen poin perundingan yang masih sangat berat.

Dari 225 pasang perundingan negara anggota RCEP, masih ada 8 pasang perundingan negara yang masih jauh dari kata sepakat.

Ini yang akan terus didorong dalam perundingan-perundingan RCEP selanjutnya, ujar Iman.

- RCEP akan menjadi blok perdagangan terbesar

Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia telah menyampaikan kepada India terkait pentingnya perundingan RCEP ini.

Sebab, kata dia, apabila RCEP telah mencapai kesepakatan, maka blok ini akan menjadi yang terbesar di dunia mengalahkan Uni Eropa.

“PDB Uni Eropa sebesar USD18 triliun, sementara RCEP sebesar USD27 triliun,” jelas Menko Airlangga.

Sementara itu, total perdagangan negara-negara RCEP sebesar USD11,5 triliun sementara Uni Eropa sebesar USD12,5 triliun.

Begitu pun dengan jumlah penduduk, RCEP akan menjadi pasar yang sangat besar karena mencakup lebih dari 3,6 miliar jiwa, jauh melampaui jumlah penduduk Uni Eropa yang hanya sekitar 512,4 juta jiwa.

“Hampir seluruh pemimpin negara-negara anggota perundingan RCEP mendorong agar perundingan bisa difinalisasi,” kata dia.

Upaya untuk meyakinkan India juga sudah dilakukan secara bilateral oleh Presiden Indonesia Joko Widodo kepada Perdana Menteri India Narendra Modi, yang menekankan pentingnya RCEP bagi ASEAN dan India.

Presiden Joko Widodo berharap India tetap berada dalam perundingan RCEP.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA