Rakyat Yaman terhimpit di antara perang kelompok bersenjata

Yaman menderita karena otoritas sah yang lemah dan tidak ada satu pun koalisi yang mengendalikan negara, kata pakar

Rakyat Yaman terhimpit di antara perang kelompok bersenjata

ANKARA

Kepala Pusat Media Yaman Baru Salih el-Gabri mengatakan pada sebuah diskusi panel bahwa rakyat Yaman terhimpit di antara dua kekuatan yang berperang, kelompok pemberontak Houthi dan koalisi Arab yang dipimpin Saudi.

Diskusi tersebut diselenggarakan oleh sebuah badan riset Pusat Studi Timur Tengah (ORSAM) di Ibu Kota Ankara.

Gabri mengatakan bahwa kemungkinan pemisahan Yaman telah meningkat.

“Yaman tidak punya modal. Meriam dan tank telah mencapai bagian tengah negara,” ujar dia.

Menurut Gabri, Yaman menderita karena otoritas sah yang lemah dan ketiadaan koalisi serius atau ketegasan militer di negara itu

Dia menambahkan bahwa Yaman menghadapi bencana di tangan koalisi Arab.

“Ini bukan masalah yang tidak bisa diselesaikan. Kita perlu mencari solusi, kita perlu bekerja sama dan mengembalikan rezim yang damai dan stabil,” kata Ahmet Uysal, kepala ORSAM.

“Penderitaan [rakyat Yaman] terjadi di depan mata opini publik dunia. Ini benar-benar tragedi,” tambah dia.

Jurnalis Jonathan Felton-Harvey menyoroti pentingnya jalan diplomatik daripada menggunakan solusi berbasis militer.

"Arab Saudi dan UEA memiliki perspektif dan ambisi geopolitik mereka sendiri dan kedua negara berusaha untuk melawan Iran dengan proksi mereka," kata Harvey.

Dia menambahkan bahwa UEA secara bertahap memperluas kehadirannya di negara itu.

"Di era perang dan teror, yang dimulai oleh AS, lebih banyak negara memiliki kebebasan untuk melakukan tindakan seperti ini untuk mengejar kepentingan mereka sendiri, dengan kedok memerangi terorisme," tegas Harvey.

Yaman telah menjadi medan perang dalam sejarah, kata panelis Selim Ozturk, yang bekerja di Akademi Kepolisian.

“Ada jurang kolonialisme di dunia saat ini. Negara-negara kaya minyak seperti Arab Saudi, Qatar dan UEA telah menciptakan masalah, dengan terlibat dalam politik negara lain," tutur dia.

Arab Saudi menuduh Iran mempersenjatai pemberontak Houthi di Yaman yang menguasai sebagian besar negara itu termasuk Ibu Kota Sanaa pada 2014.

Sejak 2015, koalisi pimpinan Saudi telah memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Akibatnya, ribuan warga Yaman terbunuh dan mendorong negara itu jatuh ke ambang bencana kelaparan.



TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA