Penundaan operasi Turki, Pengamat: AS ingin selamatkan YPG/PKK

Pengamat terorisme Yanuardi Syukur menilai AS dalam posisi dilema dalam menyikapi serangan Turki terhadap kelompok PKK/YPG

Penundaan operasi Turki, Pengamat: AS ingin selamatkan YPG/PKK

Pengamat Hubungan Internasional Agung Nurwijoyo melihat penundaan Operasi Mata Air Perdamaian adalah upaya Amerika Serikat untuk menyelamatkan kelompok teror PKK/YPG sebagai proksi di Suriah utara.

“Secara politik kawasan, saya melihatnya demikian. Tetapi ini menjadi tantangan bagi konsistensi AS sesuai pernyataan Trump,” jelas Agung, kepada Anadolu Agency di Jakarta pada Jumat.

Agung melihat penundaan operasi ini adalah bentuk keberhasilan Turki untuk mendirikan zona aman sepanjang perbatasan dengan mendesak pasukan YPG mundur dari perbatasan.

Namun, Agung mewanti-wanti perlu ada penyelesaian yang lebih seksama untuk menyelesaikan konflik di Suriah utara.

“Ide menarik mundur pasukan itu baik. Tetapi tanpa penyelesaian yang komprehensif, akan memunculkan varian ancaman baru,” ujar Agung.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) ini menyampaikan PKK/YPG merupakan ancaman nyata bagi Turki. Keberadaannya pun masuk sebagai kelompok teror bagi Turki.

“Jadi, operasi ini bukanlah operasi penumpasan terhadap Kurdi. Bagi Turki, PKK-YPG (PYD) adalah ancaman bagi Turki,” jelas dia.

Sementara itu, Pengamat terorisme Yanuardi Syukur menilai AS dalam posisi dilema dalam menyikapi serangan Turki terhadap kelompok PKK/YPG.

Menurut Yanuardi, AS harus berhadapan dengan kebijakan Turki yang menjadikan PKK sebagai teroris, sementara di pihak lain kelompok teror itu adalah sekutu AS di Suriah utara.

“Tentu saja kehadiran PKK-YPG yang ada di perbatasan akan sangat mengganggu wilayah Turki,” kata Yanuardi.

Yanuardi mengatakan pemerintah Turki tidak akan setuju dengan keinginan kelompok PKK/YPG memiliki negara sendiri. Karena hal itu sama saja merusak tatanan yang telah stabil di Turki.

“Semua negara pasti akan mempertahankan teritorialnya karena tanah itulah yang menunjukkan salah satu eksistensi negara, sekaligus menjadi kekuatan,” kata dia.

Asep Nurhalim, pengamat ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB), mengatakan Operasi Mata Air Perdamaian sudah semestinya dilakukan agar Turki selamat dari teror nyata YPG sebagai kepanjangan tangan PKK dan upaya menyelamatkan dunia kemanusiaan.

Menurut Asep, para pengungsi Suriah memiliki kerinduan kembali ke tanah air dengan aman dan dapat membangun kondisi ekonomi yang baik.

“Tidak heran dengan berbagai aksinya di Suriah dan berbagai permasalahan umat Turki menjadi harapan baru bagi pengungsi Suriyah dan dunia Islam,” kata dia.

Penundaan bukan gencatan senjata 

Menteri Luar Negeri Turki mengatakan penundaan operasi anti-teror Turki di Suriah bukanlah gencatan senjata.

"Turki akan mengakhiri operasi di Suriah utara hanya setelah teroris YPG/PKK meninggalkan [zona aman]," kata Mevlut Cavusoglu, pada konferensi pers, Kamis.

Cavusoglu mengatakan Turki akan menghentikan sementara operasi dalam lima hari dan menekankan bahwa ini bukanlah gencatan senjata karena hal itu hanya dapat terjadi antara dua pihak yang sah.

"Ketika kami menghentikan operasi, AS akan menghentikan upaya sanksi dan kami hanya dapat mengakhiri operasi setelah kondisi sebelumnya dipenuhi," ujar dia.

Cavusoglu menambahkan bahwa ketika YPG menarik diri dari wilayah tersebut, maka operasi akan berakhir.

Merujuk pada pasal sembilan dari pernyataan bersama Turki-AS, dia mengatakan bahwa kedua belah pihak juga sepakat tentang pengumpulan senjata berat YPG serta penghancuran benteng mereka dan semua posisi pertempuran lainnya.

"Turki dan AS sepakat untuk mengumpulkan senjata berat YPG, menghancurkan posisi dan benteng mereka," tambah Cavusoglu.

Menyinggung soal negosiasi dengan AS, dia mengatakan Turki mendapatkan apa yang diinginkan sebagai hasil dari kepemimpinan kuat Presiden Recep Tayyip Erdogan.

"Sisi AS, sebagai bagian dari perlindungan kepentingan keamanan Turki yang sah, mengakui pentingnya dan fungsionalitas zona aman," kata Cavusoglu.

Dia menekankan bahwa AS sepenuhnya setuju bahwa zona aman akan berada di bawah kendali Angkatan Bersenjata Turki, yang berarti bahwa Washington menerima tujuan dan legitimasi operasi anti-teror Turki di timur laut Suriah.

Cavusoglu juga menegaskan bahwa Turki dan AS berkomitmen untuk terus berperang melawan kelompok teroris di Suriah timur laut.

Setelah pertemuan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Wakil Presiden AS Mike Pence di Ankara, kedua belah pihak menyepakati 13 pasal tentang Suriah timur laut.

Turki meluncurkan Operasi Mata Air Perdamaian pada 9 Oktober untuk mengamankan perbatasannya dengan menghilangkan unsur-unsur teroris guna memastikan kembalinya pengungsi Suriah dengan aman dan integritas wilayah Suriah.

Menurut Turki, kelompok teroris PKK dan cabangnya YPG/PYD merupakan ancaman terbesar bagi masa depan Suriah, yang membahayakan integritas teritorial dan struktur kesatuan negara.

Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak dan bayi.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA