Negosiator Rusia ceritakan jalan menuju perdamaian di Suriah

Ketika perang Suriah hampir mencapai titik akhir, Anadolu Agency berkesempatan berdialog dengan Maria Khodynskaya-Golenishcheva, penasihat senior Kementerian Luar Negeri Rusia

Negosiator Rusia ceritakan jalan menuju perdamaian di Suriah

ISTANBUL

Bukanlah hal mudah bagi media untuk dapat berdialog dengan diplomat, terutama mereka ditugaskan sebagai negosiator untuk meredakan perang. 

Ketika perang Suriah hampir mencapai titik akhir, Anadolu Agency berkesempatan berdialog dengan Maria Khodynskaya-Golenishcheva, penasihat senior Kementerian Luar Negeri Rusia, yang juga utusan di Kantor PBB, Jenewa.

Khodynskaya-Golenishcheva merupakan negosiator utama Rusia di Suriah, yang menjadi bagian penting dalam perundingan dengan AS dan banyak negara lainnnya.

Kepada Anadolu Agency, Khodynskaya-Golenishcheva berbagi pandangan soal sikap Rusia menyadari pentingnya Turki dalam proses perdamaian di Suriah.

Dua bukunya tentang Suriah kini sedang dalam proses penerjamahan dan akan segera terbit di Turki.

Anadolu Agency: Setelah penarikan AS dari Suriah, Rusia diyakini muncul sebagai pemenang utama dalam proses tersebut. Sebagai negosiator Rusia yang terlibat di Suriah, apa pandangan Anda?

Maria Khodynskaya-Golenishcheva: Saya bisa berterus terang kepada Anda. Ini bukan soal mendapatkan sesuatu, ini tentang perdamaian dan upaya menyelesaikan masalah. Pada 2015, kami turun tangan dalam konflik. Kami datang ke sana karena kepentingan nasional kami. Banyak warga kami bergabung dalam pertempuran di Suriah, yang merupakan masalah bagi kami. Kami harus melindungi diri dari bencana yang akan datang. Kami mencoba dan menjadi bagian dari hampir setiap proses untuk mencari perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut. Setelah mencoba mengetuk semua pintu, kami mengusulkan dialog dengan Turki.

AA: Apa pengalaman Anda dengan AS saat menegosiasikan perdamaian?

MKG: Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia terlibat di berbagai tingkatan. Ada 20 anggota International Syria Support Group (ISSG), yang diketuai bersama oleh menteri luar negeri Rusia dan AS. Mereka gagal membuahkan hasil. Kemudian Rusia dan AS mencapai perjanjian dan keputusan penting terkait gencatan senjata pada Februari 2016. Salah satu keputusan yang sangat penting adalah di Aleppo timur pada September 2016. Kedua perjanjian itu sangat baik. Namun gencatan senjata hanya berlangsung dua minggu. Kami duduk dan mendiskusikan apakah AS tidak memiliki kemauan politik atau apakah mereka cukup serius dalam masalah ini. Kami menemukan bukan itu masalahnya. Saya dapat memberitahu Anda bahwa AS memiliki kemauan politik untuk melaksanakan gencatan senjata. Tetapi ada sesuatu yang hilang. Apa yang hilang adalah pengaruh negara-negara di kawasan. Karena setiap kelompok mendapat dukungan dari beberapa atau negara bagian lain. Saya tidak sedang mengungkapkan rahasia besar. Kami memutuskan untuk menjangkau negara-negara di kawasan. Dari semuanya, Turki sangat membantu. Jika perjanjian dengan AS ditegakkan, laman sejarah baru akan terbuka dalam hubungan internasional. Setelah kegagalan ini, kami tidak punya pilihan selain beralih ke aktor regional yang terlibat di lapangan.

AA: Anda menyebutkan bahwa kegagalan AS melakukan gencatan senjata di Aleppo membuat Anda meninjau kembali strategi Anda. Mengapa terlalu lama bagi Anda untuk menemukan pentingnya Turki?

MKG: Kami selalu berhubungan dengan Turki. Utamanya setelah kekecewaan kami dengan AS di Aleppo timur ketika mereka tidak dapat mengimplementasikan perjanjian tersebut, kami menyadari bahwa Turki memiliki pengaruh dan kapasitas untuk mengimplementasikan keputusan di atas meja. Begitulah proses Astana lahir. Pertemuan pertama di Astana, Kazakhstan, diadakan pada 23-24 Januari 2017. Dan sejauh ini, ini adalah proses yang paling sukses. Rusia juga telah bekerja sama dengan Turki dalam mengevakuasi puluhan ribu warga sipil dan militan dari Aleppo timur sebelum pasukan Suriah memasuki kota.

AA: Saya menghitung dari Rencana Liga Arab 2011 ke Rencana Kofi Annan di Suriah telah ada sekitar 30 proses. Namun semua telah gagal. Sebagai negosiator aktif di wilayah ini, menurut Anda, kenapa mereka tidak membawa hasil apa pun?

MKG: Banyak pemangku kepentingan yang terlibat di Suriah. Sebenarnya, PBB telah mengambil alih dan mengadakan sembilan putaran pembicaraan di Jenewa. Upaya tersebut berusaha menyatukan berbagai pihak. Ada yang berhasil dan ada juga yang tidak. Berhasil dalam arti para pemangku kepentingan duduk bersama, berbicara, dan mencoba mencari titik temu. Tidak berhasil karena proses berhenti. Mengapa? Itu adalah puncak diskusi. Masalah utama menurut saya adalah bahwa delegasi oposisi Suriah tidak representatif seperti yang seharusnya. Mereka tidak memiliki komandan militer. Beberapa segmen penting dari oposisi Suriah keluar dari proses perundingan. Seorang perwakilan dengan wewenang penting selama negosiasi.

AA: Rusia tidak memiliki sejarah mediasi dalam konflik dan perselisihan. Bagaimana Anda mengelola peran baru ini untuk Rusia?

MKG: Saya bisa berdebat soal itu. Kami berada di jalur mediasi di Suriah. Sebelumnya di Ukraina juga, di mana kami telah membentuk grup kontak. Kami cukup aktif di Palestina. Sekarang dengan pembicaraan kesepakatan abad ini, tidak ada yang tahu ke mana kita akan pergi. Kami adalah [mediator] yang diperlukan di Afghanistan. Kami melakukan pembicaraan di Moskow antara berbagai pihak yang berselisih.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA