Myanmar, Bangladesh, China bahas repatriasi pengungsi Rohingya

Pertemuan itu digelar di sela-sela agenda Majelis Umum PBB

Myanmar, Bangladesh, China bahas repatriasi pengungsi Rohingya

Myanmar, Bangladesh dan China akan bertemu hari ini untuk membahas pemulangan pengungsi Rohingya dari Bangladesh di sela-sela agenda Majelis Umum PBB.

Kementerian Luar Negeri Myanmar mengatakan pertemuan itu akan berfokus pada penyelesaian masalah yang menghambat pemulangan lebih dari 700.000 pengungsi yang telah melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine ke Bangladesh sejak Agustus 2017.

Para pengungsi menolak repatriasi karena khawatir akan status kewarganegaraan dan keselamatan mereka di Rakhine.

Pekan lalu, pakar HAM PBB Yanghee Lee meminta Aung San Suu Kyi untuk “merasa dengan hati, sebelum terlambat.”

“Myanmar mengklaim telah menyiapkan agar repatriasi berhasil, dan terus menyalahkan Bangladesh atas keterlambatan itu,” kata dia para Dewan HAM PBB, 16 September lalu, seperti dikutip Myanmar Times.

Perwakilan Permanen Myanmar U Kyaw Moe Tun mengatakan bahwa pemerintah mengambil pendekatan holistik dan inklusif terkait persoalan Rakhine.

Penyebab utama eksodus massal dari Rakhine, lanjut U Kyaw Moe Tun, adalah ancaman Tentara Arakan (ARSA) dan kekejaman mereka terhadap orang yang tidak bersalah.

“Nasib orang-orang terlantar dieksploitasi untuk agenda politik,” kata dia.

Setelah ARSA melancarkan serangan mematikan ke pos-pos keamanan Agustus 2017 lalu, tentara Myanmar membalas dengan tindakan keras terhadap muslim di utara Rakhine yang mengakibatkan lebih dari 700.000 orang mengungsi.

Myanmar dan Bangladesh menandatangani perjanjian repatriasi pada November 2017.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA