Jurnalis protes pembatasan media di Jammu dan Kashmir

Sejumlah asosiasi media mengadakan protes memasuki hari ke-60 blokade komunikasi

Jurnalis protes pembatasan media di Jammu dan Kashmir

SRINAGAR, Jammu dan Kashmir 

Setidaknya 11 asosiasi media di Jammu dan Kashmir - termasuk Klub Pers Kashmir - pada Kamis melakukan protes di Srinagar ketika blokade komunikasi di wilayah tersebut memasuki hari ke-60.

“Dengan mengadakan aksi duduk bersama hari ini, persaudaraan jurnalistik Kashmir ingin menyampaikan dengan tegas bahwa mereka sudah muak dengan enam puluh hari pembatasan media, enam puluh hari tanpa komunikasi dan enam puluh pemadaman informasi dari Pemerintah India,” kata pernyataan bersama yang dirilis oleh asosiasi media.

Jurnalis foto, jurnalis video, editor surat kabar lokal dan anggota Klub Pers Kashmir menuntut akses gratis ke internet dan komunikasi termasuk

“Kerugian terbesar yang dilakukan pemerintah untuk menekan kebebasan adalah dengan membatasi jalan komunikasi dan internet. Itulah yang terjadi di Kashmir tepatnya dari dua bulan terakhir," kata Safwat Zargar, jurnalis di wilayah tersebut, kepada Anadolu Agency.

“Jika seorang jurnalis dapat bekerja secara bebas, itu seharusnya tidak membuat pemerintah khawatir. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri pembatasan layanan komunikasi dan internet,” tambah Zargar.

Jammu dan Kashmir mengalami blokade komunikasi sejak 5 Agustus, ketika pemerintah India menghapus Pasal 370 Konstitusi India, yang memberikan kawasan itu status khusus.

Sejak saat itu, ratusan orang, sebagian besar pemimpin politik, ditangkap dan ditahan oleh pihak berwenang .

India mengklaim bahwa 93 persen dari pembatasan telah dilonggarkan di wilayah yang dilanda konflik, sebuah klaim yang tidak dapat diverifikasi secara independen oleh Anadolu Agency.

Jammu dan Kashmir itu dikuasai oleh India dan Pakistan sebagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh.

Sejak berpisah pada 1947, India dan Pakistan telah berperang sebanyak tiga kali - pada 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya memperebutkan Kashmir.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA