Iran: Perang Iran dan AS akan mengerikan bagi AS dan sekutunya

Sekjen Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Shamkhani mengungkapkan jika AS berperang dengan negaranya, maka akan sangat merugikan AS dan sekutunya di wilayah Timur Tengah

Iran: Perang Iran dan AS akan mengerikan bagi AS dan sekutunya

ANKARA

Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani, mengatakan bahwa Teheran memiliki banyak alat termasuk "perang proksi" yang dapat digunakan dalam perang yang potensial dengan Amerika Serikat (AS).

Shamkhani mengungkapkan berperang dengan negaranya akan sangat merugikan AS dan sekutunya di wilayah Timur Tengah.

Berbicara kepada televisi AS NBC News, Shamkhani memberikan pernyataan terkait perjanjian nuklir serta ketegangan antara Iran dan sekutu AS di Teluk Arab.

Shamkhani mengungkapkan bahwa banyak orang di Iran, termasuk dirinya mulai berpikir penarikan diri sepihak oleh AS dari perjanjian nuklir Iran adalah sebuah kesalahan.

AS adalah sumber ketegangan dan "penyerang” di wilayah Timur Tengah, ungkap Shamkhani.

Menurutnya, tujuan pemerintah Washington menekan Iran bukan untuk bernegosiasi, melainkan untuk mengambil alih Iran.

"Iran tidak akan pernah duduk di meja perundingan selama AS melakukan kebijakan tekanan," tutur dia.

Shamkhani menekankan ketegangan antara Iran dan AS tak mungkin berubah menjadi peperangan, sebab peperangan tersebut akan mengerikan bagi AS dan sekutunya.

“Iran memiliki banyak alat, termasuk perang proksi. Tak ada keraguan bahwa citra AS di kawasan dan di dunia akan semakin hancur. Mengapa mereka mengancam kita dengan perang?" ujar Shamkhani.

Negara-negara adi daya pada 2015 sepakat untuk mencabut sanksi ekonomi yang dikenakan terhadap Iran sebagai imbalan dari persetujuan mereka untuk membatasi aktivitas nuklirnya untuk tujuan sipil dan perdamaian.

Pada Mei 2018, Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik negaranya dari perjanjian nuklir penting yang ditandatangani pada 2015 antara Iran dan kelompok negara P5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman).

Sejak itu, pemerintahan Trump memulai kampanye diplomatik dan ekonomi untuk menekan Iran agar bisa membawa negara itu kembali ke perundingan untuk membahas soal program nuklir dan kegiatan lain yang dianggap tidak stabil.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA