Intelijen Rusia selidiki skandal mata-mata di kepresidenan

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov tidak dapat mengkonfirmasi dugaan mata-mata Rusia memiliki akses ke informasi rahasia

Intelijen Rusia selidiki skandal mata-mata di kepresidenan

MOSKOW

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Rabu mengatakan bahwa badan intelijen Rusia sedang menyelidiki informasi tentang mata-mata Amerika Serikat, yang diduga bekerja di bagian administrasi kepresidenan.

Peskov mengatakan dia tidak dapat mengkonfirmasi jika warga negara Rusia Oleg Smolenkov, yang diduga memata-matai pemerintah untuk Badan Intelijen Pusat (CIA), memiliki akses ke informasi rahasia.

"Saya menegaskan bahwa pernah ada karyawan seperti itu dan dia dipecat. Apakah dia seorang mata-mata atau tidak, kita tidak tahu. Ini adalah area dinas intelijen. Mereka sedang melakukan pekerjaannya," ujar dia.

Pada Senin, CNN mempresentasikan laporan yang mengklaim AS mengekstraksi salah satu sumber rahasia mereka di dalam pemerintahan Rusia pada 2017, di tengah kekhawatiran bahwa Presiden Donald Trump berulang kali salah menangani intelijen rahasia.

Menurut laporan tersebur, berdasarkan sejumlah pejabat administrasi Trump, misi ekstraksi berlangsung tak lama setelah Trump bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan mantan utusan Rusia untuk AS Sergey Kislyak pada Mei 2017.

Selama pertemuan itu, Trump berdiskusi dengan para pejabat Rusia yang mengklasifikasikan informasi intelijen mengenai Daesh di Suriah yang diberikan oleh Israel.

Informasi ini dibantah oleh Lavrov, yang mengatakan bahwa tidak ada rahasia yang dibagikan pada pertemuan dengan Trump dan Tillerson, yang kemudian dikonfirmasi oleh Penasihat Keamanan Nasional saat itu Herbert Raymond McMaster.

Sebuah sumber, yang menurut laporan itu terlibat langsung dalam keputusan untuk menghapus mata-mata dari Rusia, mengatakan bahwa pengungkapan Trump memperbaharui kekhawatiran bahwa identitas informan AS bisa diungkapkan.

CIA membantah laporan itu dan mengatakannya tidak akurat.

"Spekulasi yang salah arah bahwa penanganan presiden atas intelijen negara kita yang paling sensitif - yang dia miliki aksesnya setiap hari - membuat dugaan operasi eksfiltrasi tidak akurat," kata juru bicara CIA Brittany Bramell.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA