Indonesia tekankan pentingnya stabilitas perdamaian di Laut China Selatan

Negosiasi Code Of Conduct Laut China Selatan sudah menyelesaikan first reading, artinya ide ini masuk dalam keranjang perundingan

Indonesia tekankan pentingnya stabilitas perdamaian di Laut China Selatan

Indonesia menekankan pentingnya menjaga stabilitas perdamaian di Laut China Selatan dalam Konferensi Tingkat Tinggi ke-22 ASEAN-China di Bangkok, Minggu malam.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan Presiden Joko Widodo menyatakan kepercayaan strategis (strategic trust) sangat penting untuk menjaga stabilitas perdamaian di Laut China Selatan.

“Presiden menekankan pentingnya diplomasi dan hukum internasional, termasuk UNCLOS, dan Presiden juga mengakui pengajuan dalam negosiasi Code of Conduct (COC) Laut China Selatan,” jelas Menteri Retno di Bangkok.

Dia mengatakan yang Presiden inginkan adalah agar sentimen positif yang tercipta dalam meja perundingan melalui first reading negosiasi untuk COC juga tercermin dalam situasi di lapangan.

“Beberapa isu yang disampaikan negara-negara anggota Asean adalah bahwa ada Code of Conduct yang dinegosiasikan dan hampir semua negara menyampaikan pentingnya untuk menghormati hukum internasional, termasuk UNCLOS,” lanjut Menteri Retno.

Menteri Retno mengatakan negosiasi COC sudah menyelesaikan tahap first reading yang berarti bahwa ide yang ada sudah masuk dalam keranjang perundingan dan setelah itu, baru akan diperdebatkan seluruh ide di keranjang tersebut dalam tahap second reading.

“Ada pembahasan dan usulan bahwa negosiasi COC ini kita selesaikan dalam 3 tahun waktu yang cukup, tapi kita juga harus terus perhatikan bahwa COC yang dihasilkan adalah COC yang berkualitas,” lanjut dia.

Menteri Retno menginginkan COC yang lebih kuat dan apabila sudah selesai, maka kebuntuan kesepakatan tidak akan terulang lagi.

“Tetapi COC tidak menghilangkan urusan klaim antara negara karena urusan klaim itu akan dinegosiasikan terpisah antara pihak terkait. Misal Malaysia ada overlapping claim dengan China yang berarti mereka harus negosiasi bilateral,” lanjut Menteri Retno.

Lebih lanjut, Menteri Retno mengatakan mengenai ASEAN-China dalam konteks Indo-Pasifik, sudah terlihat adanya sinergi antara Master Plan on ASEAN Connectivity 2025 dengan Belt and Road Initiative.

“Jadi itu adalah salah satu hasil dari 5 outcome document yang dihasilkan dalam petemuan KTT ASEAN-China,” kata dia.

Menteri Retno menambahkan ASEAN dan China juga menyepakati penguatan kerja sama media dan pertukaran media, kerja sama smart city, dan laporan progres implementasi dari plan of action kerja sama kemitraan strategis ASEAN China 2016-2020.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA