China ambil keuntungan dari kerja paksa di Xinjiang

Kerja paksa terjadi di mana-mana di wilayah tersebut sehingga sulit untuk membedakan ekonomi kerja paksa dengan yang wajar

China ambil keuntungan dari kerja paksa di Xinjiang

WASHINGTON

Sebuah organisasi nirlaba pada Kamis melaporkan bahwa China menggunakan kamp kerja paksa dan pekerja penjara untuk mengambil untung dari industri kapas di wilayah Xinjiang.

Inisiatif Kekuatan Warga untuk China (CPIC) mengatakan bahwa Xinjiang adalah sumber bagi 84 persen kapas yang banyak digunakan oleh produsen pakaian ekspor China.

Menurut Louisa Greve, Direktur Urusan Eksternal Proyek Hak Asasi Manusia Uyghur, bahan-bahan yang berasal dari kamp-kamp kerja penjara ini digunakan oleh sejumlah perusahaan Amerika Serikat, seperti Disney, Adidas, Ralph Lauren, Tommy Hilfiger dan Nike.

China telah menggunakan sejumlah metode untuk menyembunyikan identitas kamp-kamp ini, termasuk dengan mengubah nama mereka dan menyamarkannya sebagai sekolah dan perusahaan dagang serta menciptakan lapisan struktur kepemilikan yang rumit.

"Ada upaya yang jelas untuk menyembunyikan rencana [China] yang sebenarnya dari dunia nyata," kata Greve pada diskusi panel yang dipandu oleh CPIC.

Tahir Hamut, seperti anggota etnis minoritas Muslim Uighur lainnya yang tumbuh di Xinjiang, mulai bekerja di kamp kerja paksa sejak sekolah dasar atas perintah pemerintah China.

Hamut ditangkap dan dikirim ke kamp pendidikan ulang, di mana dia dipaksa melakukan pekerjaan tidak dibayar dan menyelesaikan berbagai tugas seperti membuat batu bata, menyekop kerikil dan memetik kapas.

"Setiap orang dipaksa melakukan semua jenis pekerjaan berat atau mereka akan menghadapi hukuman. Siapa pun yang tidak bisa menyelesaikan tugasnya akan dipukuli," ujar dia.

Hamut akhirnya melarikan diri ke AS dengan keluarganya pada 2017, tetapi saudara laki-lakinya kemudian ditangkap oleh otoritas China.

Menurut laporan CPIC, banyak warga Uighur di Xinjiang tumbuh seperti Hamut, di mana ekonomi berbasis penjara telah membantu Partai Komunis China mendapatkan keuntungan dari industri kapas tanpa harus membayar upah pekerja.

Laporan itu memperkirakan bahwa ada 500.000 hingga 800.000 tahanan Uighur yang bekerja di kamp-kamp tersebut.

"Karena kerja paksa digunakan di mana-mana di seluruh Xinjiang, sangat sulit untuk membedakan ekonomi kerja paksa Xinjiang dengan ekonomi regulernya," tulis laporan itu.

"Berdasarkan temuan kami, pemerintah, perusahaan dan konsumen harus berasumsi bahwa setiap produk kapas yang bersumber dari China adalah produk kerja paksa China," tambahnya.

Wilayah Xinjiang China adalah rumah bagi sekitar 10 juta warga Uighur.

Kelompok Muslim Turki, yang membentuk sekitar 45 persen dari populasi Xinjiang, telah lama menuding otoritas China melakukan diskriminasi budaya, agama dan ekonomi

Menurut laporan PBB, sekitar 1 juta orang, atau sekitar 7 persen dari populasi Muslim di wilayah Xinjiang China, kini dipenjara dalam "kamp pendidikan ulang politik" yang terus berkembang.

Dalam sebuah laporan September lalu, Human Rights Watch menuduh pemerintah China melakukan kampanye sistematis pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di Xinjiang.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA