Burung Rangkong diperdagangkan di grup Facebook Thailand

Paruh, liontin, gesper, cincin, kalung, gelang, dan barang-barang lainnya yang terbuat dari bagian tubuh Rangkong ditawarkan di media sosial, kata TRAFFIC

Burung Rangkong diperdagangkan di grup Facebook Thailand

ANKARA 

Burung Rangkong dan bagian tubuhnya diperjualbelikan di sebuah grup Facebook berbahasa Thailand meskipun spesies tersebut dilindungi oleh hukum nasional dan internasional, kata jaringan pemantau perdagangan satwa liar internasional TRAFFIC.

TRAFFIC merilis laporan terbaru berjudul "Wajah Perdagangan" yang berisi tentang perdagangan ilegal rangkong dengan mensurvei postingan dan grup Facebook berbahasa Thailand dari Oktober 2018 hingga April 2019.

Laporan itu juga merinci permintaan produk rangkong dan memberikan rekomendasi untuk mengatasi perdagangan satwa liar secara online.

"Delapan jenis komoditas utama ditawarkan: paruh, liontin, gesper, cincin, kalung, gelang, barang taksidermi dan barang-barang individu lainnya," kata laporan itu, berdasarkan survei 32 grup Facebook.

Penelitian menunjukkan beberapa tingkat penyelundupan lintas batas produk-produk tersebut, di mana penjual tertinggi kedua di grup Thailand itu berlokasi di Malaysia dan lainnya di Kamboja.

"Sebuah survei online selama enam bulan dari 22 Oktober 2018 hingga 19 April 2019 menemukan bahwa sedikitnya 236 postingan Facebook menawarkan 546 bagian dan produk rangkong dalam 32 grup," ungkap laporan itu.

Perdagangan berlangsung meskipun sembilan spesies rangkong dilindungi di bawah hukum Thailand, yaitu Undang-Undang Reservasi dan Perlindungan Hewan Liar, dan hukum internasional, yaitu Konvensi Perdagangan Internasional untuk Spesies Flora dan Fauna Liar yang Terancam Punah (CITES).

"Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan Facebook dengan TRAFFIC, Dana Margasatwa Dunia (WWF) dan Dana Internasional untuk Kesejahteraan Hewan (IFAW) untuk memfasilitasi Koalisi untuk Mengakhiri Perdagangan Satwa Liar Online, Facebook memperkenalkan kebijakan pada April 2019 yang melarang perdagangan semua hewan hidup," tulis laporan itu.

Untuk mencegah perdagangan ilegal online dan melindungi satwa liar, laporan itu mengatakan masyarakat harus terus didorong untuk melaporkan kejahatan terhadap satwa liar, mengingat akses ke grup-grup yang memperdagangkan satwa liar secara ilegal sangat mudah didapat.

Perdagangan bagian tubuh atau produk rangkong dilarang di bawah Undang-Undang Reservasi dan Perlindungan Satwa Liar Thailand B.E. 2535 (1992) (WARPA), yang akan digantikan dengan undang-undang yang telah direvisi dan disahkan oleh Majelis Nasional pada 24 Mei 2019 dan mulai berlaku pada 20 November 2019.

TRAFFIC adalah organisasi non-pemerintah terkemuka yang bekerja secara global dalam perdagangan hewan dan tumbuhan liar dalam konteks konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA