Anadolu Agency tantang medan perang tertinggi di dunia

Anadolu Agency menjadi media internasional pertama yang mencapai pos militer tertinggi Pakistan di Siachen

Anadolu Agency tantang medan perang tertinggi di dunia

SIACHEN, Pakistan

Gletser Siachen, yang dikenal sebagai medan perang tertinggi di dunia, terletak di pegunungan Karakoram di Himalaya, berhimpitan di sebelah perbatasan Pakistan, India dan China. 

Wilayah ini mencakup gletser terpanjang kedua di dunia, membentang sejauh 76 kilometer (47 mil). 

Negara tetangga dan saling bersaing, Pakistan dan India, sama-sama mengklaim kedaulatan atas seluruh wilayah Siachen. 

Menurut pejabat militer Pakistan, sebelum 1984, tidak ada kehadiran militer di gletser, tetapi pada April 1984 tentara India memulai operasi rahasia dan merebut beberapa pos puncak di gletser Siachen dan mendekati pegunungan Karakoram timur, yang memaksa Pakistan untuk memindahkan pasukannya ke wilayah strategis Kashmir. 

Sejak itu, pasukan kedua negara ditempatkan di Siachen, meskipun gencatan senjata diberlakukan pada 2003. 

Pada September, Anadolu Agency mengirim tim media internasional pertama yang mengunjungi beberapa sektor gletser Siachen dan tinggal di sana untuk mengamati bagaimana pasukan menghabiskan siang dan malam di lingkungan yang keras. 

Tiba di Sektor Baltoro 

Tim pertama-tama mengunjungi Posko Ekspedisi Mendaki Gunung Tinggi Internasional (IHEC) dan pos-pos Concordia milik Tentara Pakistan di sektor Gletser Baltoro. 

Pos IHEC dan Concordia terletak di ketinggian sekitar 4.877 meter (16.000 kaki) hingga 5.182 m (17.000 kaki), sementara beberapa pos terletak di sekitar 6.100 m (20.000 kaki), dengan suhu rata-rata sekitar minus 15 derajat celsius sepanjang tahun dan turun ke minus 50 derajat celsius di musim dingin. 

Tentara Pakistan mengenakan perlengkapan salju khusus, jaket, topi, sepatu bot dan kacamata untuk melindungi diri dari kondisi cuaca yang keras, karena angin dingin selalu berhembus dari wilayah gletser. 

"Kami tidak bisa pergi ke luar tanpa pakaian khusus ini karena angin yang dingin dan kekurangan oksigen," kata seorang prajurit kepada Anadolu Agency dengan syarat anonim. 

Ditempatkan di wilayah gletser berarti mempersiapkan perjuangan dengan alam karena cuaca adalah musuh terbesar bagi tentara Pakistan dan India di wilayah Siachen, bukan peluru. 

Para prajurit yang ditempatkan di sini dapat dilihat membawa senjata di tangan, selalu berdiri waspada dan mengawasi musuh meskipun angin bertiup dingin di medan perang tertinggi di dunia itu. 

Surga pendaki gunung 

Wilayah ini juga disebut "surga pendaki gunung," karena lima dari puncak setinggi lebih dari 8.000 meter di dunia terletak di wilayah Gilgit-Baltistan Pakistan, termasuk K-2, puncak tertinggi kedua di dunia yang terkenal. 

K-2, juga dikenal sebagai Chhogori atau Mt. Godwin-Austen,adalah bagian dari barisan Karakoram, menjulang setinggi 8.611 m (28.251 kaki). 

Nanga Parbat, juga dikenal sebagai "Gunung Pembunuh" - gunung tertinggi kesembilan di dunia dengan ketinggian 8.126 m (26.660 kaki) - terletak di barisan Himalaya dan tidak pernah dinaiki di musim dingin. 

Broad Peak, juga dikenal sebagai K-3 - puncak tertinggi ke-12 di dunia dengan ketinggian 8.051 m (26.414 kaki) - terletak di barisan Karakoram, sekitar delapan kilometer dari K-2 dan membentang sepanjang lebih dari 1,5 km. 

Gashabrum-2, juga dikenal sebagai K-4, adalah puncak tertinggi ke-13 di dunia, dengan ketinggian 8.035 m (26.362 kaki) dan juga terletak di barisan Karakoram. 

Gashabrum-1, juga dikenal sebagai "puncak tersembunyi" atau K-5, adalah puncak tertinggi ke-11 di dunia dengan ketinggian 8.080 m (26.510 kaki) dan terletak di barisan Karakoram. Puncak ini juga disebut gunung yang indah atau bersinar. 

Banyak ekspedisi pendakian asing masuk melalui sektor Baltoro untuk mencapai base camp K-2, di mana mereka merencanakan tujuan berikutnya untuk mencapai puncak tertinggi. 

Menurut perwira militer Pakistan di Baltoro, mereka membantu para pendaki kapan pun mereka butuhkan atau menyelamatkan mereka jika ada yang terjebak selama ekspedisi. 

Sektor Gayari dan Gyong 

Sub-sektor Gayari dan Gyong memiliki beberapa pos pengamatan ketinggian tinggi di wilayah Siachen, termasuk pos Ibrahim di ketinggian 5.639 m (18.500 kaki) dan pos Yousaf yang terletak di ketinggian 5.791 m (19.000 kaki), termasuk lokasi tertinggi di Siachen sisi Pakistan. 

Pos Sheer di 6.035 m (19.800 kaki) dan pos Victor di 5.669 m (18.600 kaki) juga terletak di sektor ini, di mana pasukan Pakistan mendominasi ketinggian tersebut. 

Militer Pakistan memberikan tentaranya makanan standar sesuai dengan persyaratan medis di pos-pos ketinggian ini. 

"Tadi malam kita tidak bisa tidur karena menantikan kedatangan Anda," kata seorang petugas, menyambut hangat tim Anadolu Agency. 

Para perwira dan prajurit yang ditempatkan di daerah-daerah ini tidak dapat bertemu dengan kolega atau kerabat lainnya selama beberapa bulan karena kondisi yang terisolasi. 

Sesuai prosedur operasi tentara standar, tentara dan perwira dikerahkan selama 21-30 hari di pos tertinggi, tetapi kadang-kadang di musim dingin mereka dapat tinggal lebih lama ketika semua rute ditutup karena salju dan badai salju. 

Penempatan prajurit di pos-pos tertinggi ini juga merupakan pekerjaan yang sulit. Dari markas, para prajurit berjalan selama dua minggu hingga satu bulan untuk mencapai pos mereka. Dari markas hingga puncak, militer memiliki belasan pos yang berjarak dua atau tiga kilometer satu sama lain di setiap sektor. 

Para prajurit perlahan naik ke puncak dan tinggal selama satu atau dua hari atau kadang-kadang empat sampai lima hari di pos-pos militer, untuk mendapatkan aklimatisasi. Tidak ada konektivitas jalan ke puncak gletser baik di sisi Pakistan mau pun India.

Selama pergerakan mereka, sebuah tim yang terdiri dari delapan hingga 15 tentara terhubung menggunakan tali untuk melindungi satu sama lain agar tidak jatuh ke celah-celah. 

Gletser dan celah merupakan ancaman besar 

Gletser dan celah adalah ancaman besar bagi tentara di wilayah ini. Tentara dapat jatuh ke celah-celah selama melakukan kegiatan rutin saat badai salju yang tak terduga. 

Gletser Siachen dipenuhi dengan celah-celah. 

"Kami selalu bergerak dalam kelompok yang diikat dengan tali yang membantu kami melindungi satu sama lain agar tidak jatuh ke celah-celah," kata seorang perwira Angkatan Darat di sektor Gayari. 

Menurut militer setempat, sejak 1984 lebih dari 150 tentara dan perwira Pakistan serta lebih dari 100 kuli angkut kehilangan nyawa di sektor Yousaf dan Ibrahim saja karena celah dan gletser. 

Para perwira dan prajurit yang bergerak dari satu pos tentara ke pos lainnya menggunakan rute gunung yang berbahaya dan sempit selalu menghadapi ancaman jatuh di gletser. 

"Kebanyakan kami bergerak di malam hari karena risiko jatuh selalu lebih rendah daripada di siang hari," kata seorang petugas lokal.

Pasokan penting 

Mengantar makanan pokok dan pasokan senjata ke posisi militer tertinggi adalah pekerjaan sulit lainnya, baik bagi pihak Pakistan maupun India, dengan biaya jutaan dolar setiap hari. 

Mereka menggunakan helikopter untuk menjatuhkan persediaan ke pos-pos sulit di musim dingin. Tetapi di musim panas mereka menggunakan kuli angkut dan bagal untuk membawa barang-barang penting ke lokasi selanjutnya. 

Pilot yang menjatuhkan persediaan dekat pos ketinggian tinggi sudah terlatih dengan baik. 

Kuli angkut lokal membantu tentara membawa pasokan ke markas sektor dan lokasi yang lebih tinggi. 

Hidup di puncak dunia 

Hidup tidak mudah di gletser Siachen karena cuaca yang buruk. Tentara harus menggunakan pakaian khusus ketinggian tinggi, topi, sarung tangan, sepatu bot dan kacamata untuk melindungi diri dari cuaca yang tidak bersahabat. 

Di dalam posko mereka menggunakan kompor untuk pemanasan karena suhu mencapai minus 10-15 celsius di musim panas dan turun menjadi minus 50 celsius di musim dingin. 

Militer menyediakan makanan siap saji untuk semua pos, sementara di musim panas daging dan sayuran segar juga diterbangkan untuk mereka. 

"Kami tidak menghadapi masalah makanan dan juga memiliki semua barang yang diperlukan untuk melindungi diri dari cuaca buruk," kata seorang tentara. 

Ketersediaan air adalah masalah besar di Siachen, karena tidak ada mata air yang tersedia di sebagian besar sektor. Tentara merebus salju untuk air minum, karena asupan air lebih banyak diperlukan untuk menghindari dehidrasi. 

Minyak tanah adalah satu-satunya bahan bakar terbaik untuk membantu prajurit menghidupkan pemanas dan kompor. 

Para prajurit dan perwira tinggal di Igloo yang sama, terlepas dari pangkatnya. Untuk hiburan, para perwira dan tentara bermain game seperti Ludo. Terkadang mereka juga mengadakan pesta bernyanyi di pos mereka. 

Seorang tentara mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa mereka selalu mengadakan perayaan ketika ada rekan yang baru bergabung dengan mereka dan menggelar pesta makanan khusus untuk menyambut pendatang baru. 

"Kami benar-benar menikmati kehidupan di sini meskipun cuaca buruk, karena kami melindungi tanah air kami dan berkorban untuk negara dan bangsa kami," kata seorang tentara lainnya. 

“Pakistan adalah cinta dan kehidupan kami dan kami bisa mengorbankan hidup untuk negara ini,” tambah dia. 

Penyakit khas ketinggian tinggi 

Alam, bukan peluru atau tembakan mortir, adalah musuh nyata di Siachen. Kondisi cuaca yang keras menyebabkan munculnya berbagai penyakit di antara tentara Pakistan dan India yang ditempatkan di ketinggian mulai dari 2.743 m (9.000 kaki) hingga 6.706 m (22.000 kaki) kaki. 

Menurut seorang dokter militer, cuaca buruk adalah musuh besar di Siachen. 

"Masalah umum yang dihadapi tentara di Siachen adalah HAP (penyakit paru-paru ketinggian tinggi), yang bahkan dapat menyebabkan jantung berhenti karena pembekuan darah, serta penurunan berat badan, hipotermia, radang dingin dan chilblains," kata seorang dokter militer. 

Tentara yang berasal dari daerah dataran rendah berlatih beradaptasi dengan cuaca untuk menghindari risiko HAP. Mereka melewati tiga tahap latihan di ketinggian 2.438 m (8.000 kaki) hingga 4.877 m (16.000 kaki) untuk membuat paru-paru mereka terbiasa hidup di lingkungan yang rendah oksigen. 

Kondisi iklim di wilayah itu telah merenggut nyawa ratusan tentara Pakistan dan India sejak 1984. Menurut dokumen Kementerian Pertahanan India, 869 tentara India termasuk 33 perwira dan 54 Perwira Komisi Junior telah kehilangan nyawa mereka. 

Pada 2012, terjadi peristiwa tragis yang menewaskan 140 tentara Pakistan dan mereka dimakamkan dalam longsoran salju di sektor Gayari. 

Pakistan kemudian mendirikan sebuah monumen untuk mengingat semua orang yang kehilangan nyawa dalam insiden tragis itu. 

Menurut BBC, Pakistan dan India telah kehilangan lebih dari 2.500 tentara sejak konflik dimulai pada April 1984, dan lebih dari 70 persen dari semua kematian di Siachen disebabkan oleh cuaca dan medan yang keras. 

Gletser meleleh 

Sejak 1984, kehadiran ribuan tentara Pakistan dan India telah menyebabkan gletser mencair lebih cepat dan membuat mereka lebih tercemar karena sampah yang mereka tinggalkan di gletser tidak bisa diambil akibat ketinggian tinggi dan cuaca ekstrem. 

Gletser ini adalah sumber utama Sungai Shyok, yang kemudian bergabung dengan Sungai Indus yang terkenal dekat Skardu, sumber utama air minum dan irigasi di hilir Pakistan. 

Laporan meteorologi Pakistan 2017 memperingatkan bahwa gletser Himalaya telah menyusut selama 30 tahun terakhir, dengan kerugian yang semakin cepat hingga tingkat yang mengkhawatirkan dalam dekade terakhir. 

Menurut laporan itu, gletser Siachen adalah bendungan alami yang bisa menyelamatkan Pakistan dan India untuk generasi mendatang. 

Berbicara kepada Majelis Umum PBB pada 2015, Perdana Menteri Pakistan saat itu Nawaz Sharif menyerukan penarikan total pasukan India dan Pakistan dari Siachen untuk menyelamatkan gletser dari kehancuran lebih lanjut, tetapi seperti di masa lalu, India menolak proposal Pakistan ini. 

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA