40 WNI jadi korban perdagangan orang di Taiwan

Pelaku menawarkan beasiswa kepada korban untuk bisa kuliah dan bekerja dengan gaji tinggi di Taiwan

40 WNI jadi korban perdagangan orang di Taiwan

Sebanyak 40 warga negara Indonesia (WNI) menjadi korban perdagangan orang dengan modus beasiswa kuliah di Taiwan.

Wakil Direktur Tindak Pidana Umum Polri Komisaris Besar Agus Nugroho mengatakan pelaku merupakan sindikat perdagangan orang yang memiliki jaringan di Indonesia dan Taiwan.

Polisi telah menangkap dua tersangka bernama Lukas dan Mujiono.

Mereka merekrut korban-korban asal Lampung, Jawa barat dan Jawa Tengah.

Keduanya juga mengurus keberangkatan korban ke Taiwan dan berkoordinasi dengan jaringan mereka di sana.

Agus menuturkan pelaku menawarkan beasiswa kepada korban untuk bisa kuliah dan bekerja dengan gaji tinggi di Taiwan.

Mereka meminta korban membayar Rp35 juta sebagai biaya administrasi dan keberangkatan.

“Orang tua korban yang tidak mampu membayar 35 juta ditalangi oleh tersangka dengan catatan penghasilan dari bekerja digunakan untuk melunasi uang yang dipinjamkan,” kata Agus di Jakarta, Rabu.

Sebelum berangkat ke Taiwan, korban di bawa singgah di Jakarta dan mengikuti “program pengenalan” dengan salah satu universitas di Taiwan.

Agus mengatakan program tersebut merupakan kamuflase pelaku untuk meyakinkan korban dan keluarganya.

Dua orang korban berinisial AM dan AMN melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri setelah 18 bulan berada di Taiwan.

Mereka mengaku bekerja di pabrik besi setiap Senin hingga Sabtu, kemudian mengikuti kursus bahasa Taiwan setiap Minggu.

“Ini lebih mirip kursus bahasa Taiwan saja untuk memudahkan pekerjaan, bukan kuliah,” ujar Agus.

Selain itu, gaji yang seharusnya mereka terima sebesar 27 ribu dolar Taiwan justru dipegang oleh agen. Pada akhirnya kedua korban hanya menerima 5 ribu dolar Taiwan.

Menurut Agus, agen beralasan gaji tersebut digunakan untuk membayar cicilan uang talangan, biaya kuliah, serta biaya pembuatan kartu identitas.

Bareskrim akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri terkait kasus ini mengingat jaringan pelaku juga berada di Taiwan.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA