2018 jadi tahun paling mematikan bagi Jammu, Kashmir dalam satu dekade

Sebanyak 586 orang, termasuk 160 warga sipil, tewas pada 2018, kata kelompok hak asasi itu

2018 jadi tahun paling mematikan bagi Jammu, Kashmir dalam satu dekade

ANKARA

Tahun 2018 menjadi periode yang paling mematikan dalam satu dekade terakhir bagi warga Jammu dan Kashmir, di mana 586 orang tewas di wilayah tersebut, menurut sebuah kelompok hak asasi manusia.

Koalisi Masyarakat Sipil Jammu dan Kashmir (JKCCS) - sebuah kelompok hak asasi yang berbasis di Srinagar, ibu kota Jammu Kashmir - dalam laporan tahunannya mengatakan hampir 586 orang, termasuk 160 warga sipil, 267 militan dan 159 personel keamanan India, terbunuh di wilayah tersebut.

Jammu dan Kashmir, sebuah wilayah di Himalaya yang mayoritas penduduknya Muslim, dikuasai oleh India dan Pakistan sebagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh. Sebagian kecil Kashmir juga dikuasai oleh China.

Sejumlah kelompok Kashmir telah lama berperang melawan pemerintahan India untuk kemerdekaan atau untuk menyatu dengan negara tetangga Pakistan.

Menurut sejumlah organisasi hak asasi manusia, ribuan orang dilaporkan tewas dalam konflik di wilayah tersebut sejak 1989.

"Tahun 2018 adalah tahun paling mematikan dalam satu dekade terakhir. Pembunuhan 267 militan dalam bentrok dengan angkatan bersenjata dan polisi juga merupakan yang tertinggi dalam dekade terakhir," tulis laporan JKCCS.

Selain itu, laporan tersebut mencatat bahwa Kashmir mengalami peningkatan tajam dalam jumlah pembunuhan militan sejak 2016, di mana sebanyak 145 militan terbunuh pada 2016, 216 militan pada 2017 dan 267 militan pada 2018.

"Setidaknya 120 rumah tinggal rusak sebagian atau seluruhnya selama operasi anti-militansi di kawasan itu," tambahnya.

Sejak mereka berpisah pada 1947, India dan Pakistan telah berperang sebanyak tiga kali - pada 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya soal Kashmir.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA