100 tahun berlalu, Inggris ‘harus minta maaf’ atas pembantaian di India

Menurut laporan Komisi Pencarian dari pemerintah Inggris, pasukan Dyer melepaskan 1.650 peluru ke arah para demonstran tak bersenjata, termasuk wanita dan anak-anak

100 tahun berlalu, Inggris ‘harus minta maaf’ atas pembantaian di India

CHANDIGARH, India

Meskipun Perdana Menteri Inggris Theresa May telah menyatakan "penyesalan" atas pembantaian 1919 oleh pasukan Inggris di India, banyak negara Asia Selatan menunggu permintaan maaf resmi dari pihak berwenang Inggris. 

"Ada sentimen di antara orang-orang bahwa pemerintah Inggris harus mengajukan permintaan maaf atas pembantaian itu," kata Prof. Sukhmani Bal Rair, ahli sejarah modern di Universitas Panjab yang berbasis di Chandigarh, kepada Anadolu Agency.

Pada 13 April 1919, bertepatan dengan hari Baisakhi - festival musim semi yang menandai Tahun Baru di Sikhisme - pasukan Inggris pimpinan Kolonel Reginald Dyer menembaki warga sipil, yang berkumpul di Jallianwala Bagh, kota Amritsar.

Menurut laporan Komisi Pencarian dari pemerintah Inggris, pasukan Dyer melepaskan 1.650 peluru ke arah para demonstran tak bersenjata, termasuk wanita dan anak-anak.

Laporan itu menyebutkan jumlah korban jiwa mencapai 379 orang. Namun versi lain mengatakan jumlah yang jauh lebih tinggi.

Menurut laporan itu, lebih dari 1.000 orang juga terluka dalam penembakan itu.

Bahkan setelah 100 tahun berselang, pembantaian masih membangkitkan amarah dan meninggalkan kesedihan di benak banyak orang.

“Ini adalah peristiwa terburuk dalam sejarah India. Pemerintah Inggris harus meminta maaf di hadapan publik India. Saya telah membaca di buku-buku bagaimana orang tak berdosa menjadi martir pada hari itu,” kata Varun Bhatia, pelajar di Punjab, India.

Menyatakan penyesalan atas insiden itu, May mengatakan pada Kamis: "Tragedi Jallianwala Bagh pada tahun 1919 adalah bekas luka memalukan dalam sejarah India-Inggris. Seperti yang dikatakan Ratu sebelum mengunjungi Jallianwala Bagh pada tahun 1997, itu adalah kejadian menyedihkan dari sejarah masa lalu kita dengan India [...] kami sangat menyesali apa yang terjadi dan penderitaan yang ditimbulkan. Saya senang bahwa hari ini hubungan India-India adalah kolaborasi, kemitraan, kemakmuran, dan keamanan. "

Pada 2013, Perdana Menteri Inggris saat itu David Cameron juga mengunjungi negara bagian Punjab dan menggambarkan insiden itu sebagai "peristiwa yang sangat memalukan dalam sejarah Inggris."

-Publik menuntut lebih dari sekedar maaf

Dalbari Lal, mantan menteri negara bagian di Punjab, mengatakan kepada Anadolu Agency semua orang di India menginginkan permintaan maaf resmi dari pihak berwenang Inggris, tetapi dia melihat kemungkinan itu kecil dapat terwujud. 

"Mereka harus meminta maaf atas pembantaian ini. Namun itu tidak akan pernah terjadi karena jika mereka melakukannya, siapa pun orang dari India akan pergi ke pengadilan dan meminta kompensasi. Juga ada beberapa orang, yang membenarkan tindakan Dyer," kata Lal.

Februari lalu, majelis negara bagian Punjab dengan suara bulat mengeluarkan resolusi, menuntut permintaan maaf dari pemerintah Inggris atas pembantaian tersebut.

Seorang menteri Pakistan juga menuntut permintaan maaf dari UK untuk pembantaian tersebut.

"Sepenuhnya mendukung tuntutan tersebut bahwa kerajaan Inggris harus meminta maaf kepada Pakistan, India dan Bangladesh atas pembantaian Jallianwala dan bencana kelaparan Bengal. Tragedi-tragedi ini adalah bekas luka di wajah Inggris, juga [berlian] Kohenoor harus dikembalikan ke museum Lahore yang merupakan hak milik museum," kata Menteri Informasi Pakistan Fawad Chaudhry dalam sebuah Tweet pada Kamis.

Namun, Prof. Rair mengatakan selain meminta maaf, “kami juga ini meminta lebih - seperti memberi kami catatan sejrah sehingga kami dapat membangun sejarah pada saat itu.

Mahesh Behal, yang berusia 70-an tahun dan cucu korban pembantaian Jallilanwala Bagh, mengatakan pemerintah India "belum berbuat banyak" kepada para keluarga korban.

"Jenderal Dyer adalah penjagal bangsa India dan keluarga seperti kami," kata Behal.

"Pemerintah tidak melakukan banyak hal untuk keluarga kecuali memberikan kartu pejuang kebebasan, yang dapat digunakan untuk memanfaatkan pembebasan pajak tol di jalan raya," tambah dia.

Behal mengatakan pembantaian itu merupakan "poin penting" bagi kemerdekaan India dari kekuasaan Inggris.

“Setidaknya pemerintah harus memberikan penghormatan [kepada para korban], sehingga semua orang mengakui pengorbanan mereka yang menjadi martir,” tambah dia.

Tek Chand, 73, cucu Khushi Ram yang tewas di Jallilanwala Bagh, mengatakan kepada Anadolu Agency pihak berwenang saat itu mengumumkan sejumlah kompensasi, tetapi tidak pernah diberikan kepada kami [...] pemerintah Inggris belum mengeluarkan permintaan maaf. Mereka harus melakukannya, ”kata Chand.

* Aamir Latif di Karachi berkontribusi pada laporan ini.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA