Sawahnya Mengering, Petani Purwadadi Curhat ke Anjar Asmara

Ribuan warga Purwadadi hadiri Festival Layang layang malam di Desa Bantardawa pada Sabtu (23 09 2017). Warga berbondong bondong datang dengan raut wajah penasaran ingin melihat kemilaunya warna layangan malam. Tak sekedar melihat saja, warga berpatisipas

Sawahnya Mengering, Petani Purwadadi Curhat ke Anjar Asmara

CIAMIS, FOKUSJabar.com: Ribuan warga Purwadadi hadiri Festival Layang-layang malam di Desa Bantardawa pada Sabtu (23/09/2017). Warga berbondong-bondong datang dengan raut wajah penasaran ingin melihat kemilaunya warna layangan malam. Tak sekedar melihat saja, warga berpatisipasi sukseskan dan sosialisasikan Anjar Asmara pada acara yang digelar oleh Kawan AA Purwadadi tersebut. Akan tetapi, kehadiran Kawan AA di Purwadadi dibanjiri keluhan. Hadirnya Anjar Asmara untuk memimpin Ciamis kedepan mampu menjawab kegelisahan masyarakat yang bermata pencaharian mayoritas sebagai petani. Permasalahan klasik kekeringan sawah terjadi di daerah lumbung Padi Ciamis tersebut membuat petani menitipkan harapan penuh pada Anjar Asmara. Kepala Dusun Bantarsari, Desa Bantardawa Kecamatan Purwadadi, Misman (52) menyampaikan masalah yang dialami selama 40 tahun. Sejak 1975 ladang sawah di desa Nisman ini kering kerontang. Sekitar 20 hektar sawah di kawasan Bantardawa berstatus sawah tadah hujan. Dalam satu tahun petani hanya mampu memanen padi sebanyak dua kali. Itu pun jika ada ketersediaan air. Padahal, berbagai upaya telah dilakukan termasuk diberi bantuan oleh pemerintah tetapi tak kunjung menjawab keresahan petani Purwadadi. "Kami harap Calon Bupati Ciamis, Anjar Asmara bisa menjawab kegelisahan kami selama puluhan tahun itu. Kami butuh program pompanisasi untuk pesawahan kami," sebut Misman. Sebelumnya pemerintah telah memberikan bantuan berupa pompa sebanyak 5 unit, tapi kata Misman ini tak bisa menjawab permasalahan petani. Sebanyak 5 pompa ini tak bisa bekerja maksimal untuk 20 hektar lahan sawah. "Kami butuh pompa yang jauh lebih besar. Untuk pompa saat ini tak bisa beroprasi maksimal. Biaya oprasi saja sudah Rp 100 ribu sehari semalam. Ditambah operator tidak ada upah. Sedangkan didaerah ini sebagian besar mencari nafkahnya dari hasil tani," ujarnya. Koordinator Kawan AA, Deni Hamdani menjawab keresahan petani Purwadadi. Dia menyampaikan bahwa permasalahan klasik tersebut sudah diketahui dan didengar oleh Anjar Asmara (AA). "Hadirnya AA sosok pemimpin yang mampu mendengar keinginan masyarakat dan mengajak berjuang bersama muda dan terbuka," tuturnya. (Boip/Bam's)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA