Warga Malaysia lebih suka mengemudi sendiri ke tempat kerja

Mereka tidak suka bersosialisasi. lebih senang berangkat dan pulang kerja sendirian

Warga Malaysia lebih suka mengemudi sendiri ke tempat kerja

Sebagian besar warga Malaysia harus mengendarai kendaraannya sendiri dari rumahnya untuk berangkat dan pulang bekerja di Kuala Lumpur, demikian hasil sebuah penelitian.

Survei oleh Pusat Studi Pemerintahan dan Politik (Centre for Governance and Political Studies/ Cent-GPS) menemukan bahwa 87,3 persen warga Malaysia di Lembah Klang mengemudi sendirian, menjadikan mereka sebagai daerah dengan angka pengemudi tunggal tertinggi di dunia.

Survei menemukan bahwa sekitar 11,6 persen bepergian dengan satu penumpang, sementara hanya 0,9 persen bepergian dengan dua penumpang lainnya.

Pengemudi aplikasi transportasi online dan penumpangnya tidak masuk dalam survei.

Hampir 5.000 kendaraan disurvei dari 23 hingga 25 Oktober di berbagai bagian Lembah Klang, antara pukul 08.00 dan 09.10.

Responden sampel adalah pengemudi yang menuju Kawasan Pusat Bisnis (CBD) di jalan tol.

Cent-GPS mengatakan ini untuk memastikan mereka secara finansial mampu mengemudi ke tempat kerja dan lebih suka membayar tol serta bahan bakar daripada biaya transportasi umum.

“Dalam penelitian kualitatif kami, jelas dari responden kami bahwa banyak yang memilih mengemudi sendirian karena kenyamanan.

“Mereka lebih suka menghabiskan perjalanan pagi sendirian untuk merenung, mendengarkan podcast dan musik favorit.

"Mereka lebih suka melakukan ini tanpa harus berinteraksi dengan penumpang rekan," kata Cent-GPS dalam siaran pers Senin seperti dimuat The Star.

Alasan lain adalah angkutan umum masih tetap sulit diakses, sementara lainnya mengeluhkan biaya parkir di stasiun LRT atau MRT sama dengan parkir di tempat kerja.

Ada juga yang beralasan bahwa saat mereka melakukan carpooling, beberapa rekannya sering terlambat sehingga menyebabkan semua penumpang terlambat.

Menurut Cent-GPS, pada 2018 Amerika Serikat pengemudi komuter tunggal mencapai 66 persen sementara 34 persen lainnya menggunakan carpool.

Di Spanyol, sekitar 56 persen pekerja berpergian sendirian dengan mengemudi sementara 44 persen menggunakan carpool atau angkutan umum.

Di Belgia, jumlah komuter pengendara tunggal menurun hingga 5 persen per tahun dari yang sekarang diyakini hanya sekitar 30 persen.

“Namun, dari tinjauan literatur kami, alasan mereka menggunakan kendaraan sendiri adalah biaya tol dan bahan bakar.

“Terus terang, biaya bahan bakar dan tol di Malaysia cukup terjangkau, sehingga tidak membuat mereka menggunakan carpooling atau transportasi umum.

"Biaya bahan bakar dan lalu lintas tidak sebesar biaya untuk duduk dan mendengarkan kolega mengeluh tentang bos.

"Namun, jika pemerintah meningkatkan biaya tol dan bahan bakar, yang paling terkena dampak adalah kelompok B40 (kelompok pendapatan menengah). Hal ini membuat pengemudi komuter tunggal hanya kemewahan yang dirasakan kelompok kaya,” ujar Cent-GPS.

Namun, kelompok itu mendesak para pemerintah tidak menaikkan tarif tol dan melanjutkan kebijakan subsidi bahan bakar.

Pemerintah Malaysia sebenarnya menargetkan penggunaan 40 persen transportasi umum dari 20 persen saat ini.

Menurut riset Nielsen, 93 persen warga Malaysia pada 2014 memiliki mobil, sebuah tingkat kepemilikan mobil ketiga tertinggi di dunia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA