Tantangan kian besar, pejabat pertahanan ASEAN perkokoh kerja sama

Tantangan berupa pengaruh kekuatan negara-negara besar dan persoalan regional seperti terorisme serta ancaman nuklir yang kian meningkat

Tantangan kian besar, pejabat pertahanan ASEAN perkokoh kerja sama

Menteri Pertahanan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan mitra lainnya menyerukan agar negara-negara kawasan itu meningkatkan kerja sama, seiring tantangan keamanan yang semakin besar.

Seruan itu datang dari pertemuan pejabat tinggi pertahanan Asia Tenggara dan delapan mitra dialog seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Korea Selatan, India, Rusia, Australia, dan Selandia Baru.

“Negara-negara di kawasan harus menjalin kerja sama praktis untuk menemukan cara berkelanjutan demi mencegah dan mengatasi ancaman keamanan ini bersama,” ujar pernyataan bersama Pertemuan Para Menteri Pertahanan ASEAN-Plus di Bangkok, Thailand, seperti dikutip Bangkok Post.

Mereka mengatakan ancaman dan tantangan keamanan di Asia-Pasifik semakin meningkat, berdasarkan frekuensi serta tingkat keparahan.

Meningkatnya integrasi dan konektivitas regional serta kemajuan teknologi, ujar mereka, berdampak pada ancaman keamanan non-tradisional, menambah kompleksitas dan ketidak pastian.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand Kongcheep Tantravanich mengatakan tantangan berupa kekuatan besar dan persoalan regional seperti terorisme dan ancaman nuklir yang kian meningkat.

Juga konflik Laut Cina Selatan antara China dengan sejumlah negara anggota ASEAN.

Senin lalu, Menteri Pertahanan AS Mark Esper dan Menteri Pertahanan Tiongkok Wei Fenghe mengadakan pertemuan bilateral.

Pertemuan itu mendesak AS agar melenturkan otot-ototnya di Laut Cina Selatan, kata juru bicara Kementerian Pertahanan China.

Pernyataan bersama itu juga menegaskan kembali “komitmen mereka untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan Asia-Pasifik lewat kerja sama secara erat untuk mengatasi tantangan keamanan bersama.”

“Kami menyadari bahwa kepatuhan terhadap hukum internasional mendorong interaksi militer yang aman dan profesional, mencegah konflik bersenjata, dan menyediakan, dalam perjanjian dan konvensi, mekanisme untuk penyelesaian sengketa secara damai,” ujar mereka.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA