Singapura kalahkan Amerika Serikat sebagai negara paling kompetitif 2019

Peringkat Amerika turun disebabkan perang dagang yang diiniasi oleh Presiden Trump, sedangkan Hong Kong, Belanda, dan Swiss masuk jajaran lima besar paling kompetitif

Singapura kalahkan Amerika Serikat sebagai negara paling kompetitif 2019

Singapura mengalahkan Amerika Serikat sebagai negara dengan ekonomi paling kompetitif di dunia pada 2019, menurut laporan World Competitiveness Report, World Economic Forum (WEF) yang dirilis Selasa.

Laporan ini menggambarkan daya saing masing-masing negara pada skala nol hingga 100 yang dihitung berdasarkan fasilitas infrastruktur, kesehatan, pasar tenaga kerja, sistem keuangan, kualitas lembaga publik dan keterbukaan ekonomi, seperti dilansir Channel News Asia.

Singapura mendapatkan skor 84,8. Menurut WEF negara ini juga mendapat keuntungan dari perang dagang antara Amerika-China dengan menerima pengalihan rute ke pelabuhan-pelabuhan di negara itu.

AS merosot dari skor 85,6 tahun lalu menjadi 83,7 karena perang dagang yang dikobarkan oleh Presiden Donald Trump.

Hong Kong naik empat tingkat menempati urutan ketiga dengan skor 83,1. Namun data yang digunakan dalam laporan itu dikumpulkan sebelum gelombang protes mulai mengguncang pusat keuangan itu.

Belanda menempati urutan keempat, sementara Swiss berada di tempat kelima.

Tidak ada masalah di Amerika Serikat

Meskipun laporan tersebut tetap menyebut Amerika Serikat sebagai "pusat inovasi" dan ekonomi paling kompetitif kedua di dunia, namun ada tanda-tanda yang menunjukkan munculnya beberapa masalah.

"Penting untuk memastikan negara-negara terbuka untuk berdagang," kata Saadia Zahidi, managing director WEF, ketika diminta komentar soal dampak perang tarif yang dikenakan oleh Presiden Trump.

Dia mengaku kekurangan "data keras" tentang dampak tarif AS yang dikenakan pada beberapa mitra ekonomi utamanya, karena rangkaian produk yang terpengaruh tetap terbatas dibandingkan dengan perdagangan keseluruhan.

Tetapi sentimen seputar investasi di AS saat ini "telah turun", ujar dia kepada wartawan di Jenewa.

"Itu pada akhirnya akan berdampak pada investasi jangka panjang; itu akan berdampak pada bagaimana para pembuat keputusan berpikir; yang pada akhirnya akan berdampak pada pandangan para pemimpin bisnis non-Amerika. Jadi itu penting dalam jangka panjang ," dia menambahkan.

Laporan daya saing ini juga dipengaruhi oleh survei kepada para eksekutif, di samping data ekonomi.

Zahidi mengatakan bahwa peringkat AS juga jatuh karena tingkat harapan hidup di negara itu sekarang lebih rendah daripada di China.

Dalam data yang diterbitkan tahun lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa bayi baru lahir di China mempunyai angka harapan hidup 68,7 tahun, dibandingkan dengan 68,5 untuk bayi baru lahir di Amerika.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA