Rumah sakit Indonesia di Rakhine, Myanmar selesai dibangun

Kehadiran rumah sakit ini diharapkan bisa membantu situasi penduduk Rakhine yang hidup di tengah konflik

Rumah sakit Indonesia di Rakhine, Myanmar selesai dibangun

Pembangunan rumah sakit Indonesia di negara bagian Rakhine, Myanmar akhirnya rampung pada November 2019.

Rumah sakit tipe C ini terdiri dari dua lantai dengan luas 2.300 meter persegi. Sejumlah fasilitas yang dibangun antara lain ruang operasi, ruang evakuasi, serta bangunan pendukung untuk kamar jenazah.

Lokasinya berada di antara desa berpenduduk muslim dan berpenduduk buddha, sekitar 160 kilometer dari Sittwe, ibu kota negara bagian Rakhine.

Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Yogi Prabowo mengatakan fasilitas kesehatan di kamp-kamp pengungsi Rohingya di Rakhine masih sangat minim.

Kehadiran rumah sakit ini diharapkan bisa membantu situasi mereka yang hidup di tengah konflik.

MER-C akan segera menyerahkan bangunan fisik rumah sakit agar segera dapat beroperasi dan dikelola oleh pemerintah setempat.

Menurut Yogi, ada sejumlah organisasi juga akan membantu menyiapkan operasional rumah sakit.

Selain itu, MER-C akan membantu dalam hal capacity building untuk memberdayakan masyarakat dan petugas medis setempat.

Pasalnya, pemerintah setempat tidak membolehkan lembaga ini mengirim relawan untuk ditempatkan di rumah sakit tersebut.

Proses itu juga diharapkan bisa menjadi jembatan menuju perdamaian bagi penduduk Rakhine.

“Kami berharap lewat capacity building antara masyarakat Rohingya, kalau bisa berbaur kami harap bisa mendorong perdamaian,” kata Yogi di Jakarta, Jumat.

Insinyur pembangunan, Nur Ikhwan Abadi mengatakan pembangunan rumah sakit Indonesia pertama di Rakhine ini memakan waktu hingga dua tahun karena kendala birokrasi dan situasi keamanan Rakhine yang tidak stabil.

Padahal mulanya pembangunan rumah sakit ini ditargetkan rampung dalam kurun 10 bulan.

Konflik bersenjata masih kerap terjadi antara militer pemerintah Myanmar dengan kelompok bersenjata Arakan Army.

“Kalau sudah terjadi peperangan, aktivitas pembangunan harus terhenti. Pernah baku tembak antara milisi dan militer terjadi di dekat rumah sakit saat kami sedang bekerja,” kata dia.

Selama pembangunan, MER-C merekrut warga muslim setempat yang tadinya bekerja sebagai kernet, dan lain-lain.

Sebab tidak banyak pekerja atau kontraktor yang mau mengerjakan proyek pembangunan karena khawatir dengan konflik bersenjata yang masih berlangsung.

“Kami latih mereka (warga setempat) sampai akhirnya bisa bekerja membangun rumah sakit ini,” ujar dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA