Ratusan sekolah di Rakhine masih tutup akibat perang

Pertempuran antara militer Myanmar dan Arakan Army yang dimulai Desember lalu telah memaksa hampir 40.000 orang meninggalkan rumah

Ratusan sekolah di Rakhine masih tutup akibat perang

JAKARTA 

Sekitar 100 sekolah di Rakhine masih tutup meski pembukaan ajaran tahun baru telah berlangsung lebih dari sepekan, akibat pertempuran antara militer dan kelompok pemberontak Budha Arakan Army, lansir Myanmar Times pada Senin.

U Khaing Kaung San, direktur Yayasan Pengembangan Pedesaan Wan Lark, mengatakan sebagian besar sekolah tutup berada di kota Kyauktaw, Minbya, Mrauk-U, Rathedaung, dan Ponnagyun di Rakhine utara.

"Beberapa sekolah telah dibuka, tetapi para pelajar tidak akan pergi ke sekolah karena risiko keamanan dan keberadaan militer di daerah itu," kata dia.

U Khaing Kaung San menambahkan, survei lembaganya menemukan ribuan siswa sekolah menengah dan sekolah dasar telah terkena dampak perang.

"Beberapa siswa tidak bisa pergi ke sekolah karena mereka tinggal di kamp-kamp pengungsi sementara," kata dia.

Pertempuran antara militer dan Arakan Army yang dimulai Desember lalu telah memaksa hampir 40.000 orang meninggalkan rumah mereka, menurut pemerintah negara bagian Rakhine.

U Win Myint, juru bicara pemerintah negara bagian Rakhine tidak dapat mengkonfirmasi berapa banyak sekolah yang ditutup.

"Ini terjadi karena masalah keamanan, tetapi kami tidak bisa memastikan jumlahnya sampai kami memverifikasi dengan kementerian terkait," kata dia.

Menurut warga, bentrokan antara militer dan Arakan Army masih berlangsung di dekat daerah pemukiman dan banyak warga masih mengungsi.

Mei lalu, UNICEF Myanmar membuat seruan untuk melindungi anak-anak di Rakhine ketika sekolah dibuka kembali.

UNICEF mengaku prihatin dengan laporan anak-anak yang dibunuh dan penggunaan sekolah untuk tujuan militer.

"UNICEF mendesak semua pihak dalam konflik untuk memastikan keselamatan anak-anak yang terjebak dalam konflik dan menegakkan hak mereka atas perlindungan dari segala bentuk kekerasan," demikian pernyataan lembaga itu.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA