Pengadilan Myanmar tolak banding dua wartawan Reuters

Pengadilan Myanmar mengatakan banding dua wartawan itu tidak memberikan bukti cukup untuk menunjukkan mereka tidak bersalah

Pengadilan Myanmar tolak banding dua wartawan Reuters

JAKARTA

Pengadilan Myanmar pada Jumat menolak banding dua wartawan Reuters yang dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara dengan tuduhan melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi.

Pengadilan Myanmar mengatakan banding dua wartawan itu tidak memberikan bukti cukup untuk menunjukkan mereka tidak bersalah.

"Itu adalah hukuman yang sesuai," kata Hakim Pengadilan Tinggi Aung Naing.

Pemimpin Redaksi Reuters Stephen J. Adler mengatakan putusan ini adalah bentuk ketidakadilan terhadap dua wartawannya, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo.

“Mereka tetap berada di balik jeruji besi karena satu alasan: mereka yang berkuasa berusaha membungkam kebenaran,” kata Adler dalam sebuah pernyataan seperi dilansir Reuters.

Adler menegaskan peliputan jurnalistik bukan merupakan kejahatan dan sampai Myanmar mengakui kesalahannya, pers di Myanmar tidak akan bebas.

“Komitmen Myanmar terhadap supremasi hukum dan demokrasi masih diragukan," ujar Adler.

Dalam argumen banding yang diajukan bulan lalu, pengacara menyampaikan kurangnya bukti kejahatan yang dituduhkan kepada kliennya.

Mereka mengatakan para jaksa penuntut umum telah gagal membuktikan kedua wartawan Reuters telah mengumpulkan informasi rahasia dan mengirimkannya kepada musuh Myanmar.

Jaksa juga dianggap gagal membuktikan kedua wartawan memiliki niat untuk merusak keamanan nasional.

Khine Khine Soe, seorang pejabat hukum yang mewakili pemerintah, mengatakan pada sidang banding bahwa bukti menunjukkan para wartawan telah mengumpulkan dan menyimpan dokumen rahasia.

Khine menuding kedua wartawan bermaksud merusak keamanan nasional dan kepentingan nasional.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA