Pendapatan seret, Malaysia kurangi belanja negara tahun depan

Pertumbuhan ekonomi Malaysia diperkirakan 4,8 persen namun ada pelemahan ekspor karena kondisi global

Pendapatan seret, Malaysia kurangi belanja negara tahun depan

Malaysia memberlakukan kebijakan pengurangan anggaran belanja dan pendapatan negara (APBN) Malaysia 2020, karena diperkirakan akan menerima pemasukan lebih kecil.

Namun seperti dilaporkan Channel News Asia, pemerintah Malaysia berkomitmen menaikkan belanja pembangunan untuk mengimbangi perlambatan permintaan global.

Malaysia menetapkan defisit fiskal sebesar 3,2 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih besar dibandingkan dengan target awal 3 persen, namun tetap lebih rendah daripada tahun ini yang mencapai 3,4 persen.

Meskipun demikian, pemerintah Malaysia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8 persen tahun depan, sedikit lebih tinggi dari proyeksi tahun ini sebesar 4,7 persen, dan memperkirakan akan terjadi pelemahan ekspor.

"Permintaan domestik akan menopang pertumbuhan dengan sektor eksternal berkembang secara moderat dengan latar belakang lingkungan global yang menantang," kata pemerintah dalam laporan Economic Outlook, yang dirilis bersamaan dengan anggaran kedua koalisi pemerintah Perdana Menteri Mahathir Mohamad.

Anggaran belanja tahun depan tercatat sebesar RM297,02 miliar atau setara USD70,85 miliar, atau 6 persen lebih rendah dari tahun lalu yang mendapat alokasi sebesar RM316 miliar.

Sementara pendapatan diperkirakan RM244,53 miliar pada 2020, turun 7,1 persen dari proyeksi tahun ini.

Anggaran operasional pemerintah akan turun tajam menjadi RM241,02 miliar tahun depan dari RM262,26 miliar tahun ini.

Tetapi anggaran pembangunan naik menjadi RM56 miliar dari RM53,7 miliar pada 2019, untuk mendanai rencana pemerintah untuk meningkatkan kegiatan ekonomi, berinvestasi dalam pendidikan dan pelatihan, dan "menghidupkan kembali institusi publik dan keuangan publik".

The Star melaporkan bahwa Mahathir Mohamad mengakui tidak bisa memenuhi semua harapan masyarakat pada anggaran tahun depan.

Menurut Mahathir sebagian masyarakat menginginkan pajak lebih rendah dan sebagian lain adalah peningkatan subsidi.

“Saya membaca di koran, apa yang orang inginkan adalah pajak yang lebih rendah dan peningkatan subsidi - itu bertentangan.

“Anda tidak dapat memiliki pajak yang lebih rendah dan peningkatan subsidi. Harus ada keseimbangan di antara keduanya.

Prospek pertumbuhan ekonomi Malaysia

Pemerintah mengharapkan sektor swasta bisa terus menopang perekonomian. Sektor jasa, yang menyumbang sekitar 58 persen dari PDB, diperkirakan akan tumbuh 6,1 persen pada 2019 dan 6,2 persen tahun depan.

Pemerintah juga mengharapkan langkah ekspansi yang lebih cepat di bidang manufaktur dan konstruksi pada 2020, meskipun pemerintah melihat pertumbuhan sektor pertambangan moderat.

Pertanian terlihat tumbuh lebih lambat 3,4 persen pada tahun 2020 dibandingkan dengan 4,3 persen tahun ini.

Pendapatan terkait minyak bumi turun 1,4 persen menjadi RM50,5 miliar pada 2020, berdasarkan asumsi harga minyak mentah global rata-rata US$62 per barel.

Ekspor bruto diperkirakan akan meningkat sebesar 0,1 persen pada 2019 dan 1,0 persen pada tahun berikutnya.

Surplus transaksi berjalan kemungkinan akan melebar ke RM43,4 miliar pada 2019 karena peningkatan ekspor barang dan jasa.

Namun, proyeksi pelemahan permintaan global dan domestik dan harga komoditas yang tidak stabil diperkirakan akan memangkasnya menjadi RM29 miliar pada 2020.

"Ke depan, ekonomi tangguh Malaysia kemungkinan akan mendukung pergerakan ringgit di tengah prospek global yang menantang," kata dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA