Pembangunan tak merata picu “kelas menengah yang hilang” di Filipina

Mereka tak memiliki akses ke layanan dasar meski ada peningkatan pendapatan

Pembangunan tak merata picu “kelas menengah yang hilang” di Filipina

Pembangunan yang tak merata memicu adanya "kelas menengah yang hilang" di Filipina.

“Kami menghadapi tantangan ketimpangan pendapatan, pengangguran, degradasi lingkungan dan meningkatnya risiko bencana. Contohnya adalah munculnya “kelas menengah yang hilang”, yang tak memiliki akses ke layanan dasar meski ada peningkatan pendapatan,” ujar Sekretaris Perencanaan Sosial Ekonomi sekaligus Ketua Otoritas Ekonomi dan Pembangunan Nasional (NEDA) Filipina Ernesto Pernia dalam pidato di Forum Statistik ASEAN ke-4 kemarin, lansir Philstar.

Berbagai persoalan pembangunan yang sama juga dialami negara-negara di ASEAN, oleh karena itu Pernia menekankan perlu ada kolaborasi dan kerja sama antar negara kawasan.

“Dalam hal ini, ASEAN telah mengambil langkah besar untuk mencapai Agenda 2030, dari penghapusan kemiskinan, peningkatan kesehatan ibu dan promosi kesetaraan gender,” kata Pernia.

Meski begitu, lanjut Pernia, seiring meningkatnya kompleksitas persoalan pembangunan, kerja sama antar negara kawasan belum maksimal.

Pernia mendesak agar Sistem Statistik Komunitas ASEAN (ACSS) mengadopsi penggunaan indeks kemiskinan multidimensi yang mulai digunakan Filipina untuk melacak tujuan pembangunan.

“Untuk memantau sejah mana pembangunan mengalir ke provinsi-provinsi termiskin, indeks ini dapat diadopsi oleh ASEAN secara keseluruhan,” ujar Pernia.

Tahun lalu, kata Pernia, hasil MPI menunjukkan ada empat dimensi utama kemiskinan, yaitu pendidikan; perumahan, air dan sanitasi; kesehatan dan nutrisi; dan pekerjaan.

Sistem ini, imbuh Pernia, memberikan informasi soal kebutuhan dasar orang Filipina yang tak memiliki akses sekaligus melengkapi ukuran kemiskinan berbasis pendapatan.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA