Myanmar tolak pengajuan banding jurnalis Reuters

Pemimpin redaksi Reuters menyebut penolakan pengadilan itu sebagai bentuk “ketidakadilan”

Myanmar tolak pengajuan banding jurnalis Reuters

YANGON, Myanmar

Pengadilan Myanmar pada Jumat menolak banding dua wartawan Reuters, yang dipenjara karena penyelidikan pembunuhan Muslim Rohingya oleh petugas keamanan di sebelah barat negara bagian Rakhine.

Wa Lone, 32, dan Kyaw Soe Oo, 28, divonis tujuh tahun pidana September lalu karena dituduh melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi saat menyelidiki pembunuhan 10 laki-laki Rohingya di Rakhine.

Pengacara mereka mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi di Yangon pada November.

Hakim Aung Naing, menolak pengajuan banding itu dan mengatakan pidana penjara adalah "hukuman yang sesuai" bagi wartawan itu.

Stephen J Adler, pemimpin redaksi Reuters, menyebut penolakan pengadilan itu sebagai bentuk “ketidakadilan”.

“Liputan bukanlah kejahatan, dengan Myanmar melakukan kesalahan mengerikan begini, pers di Myanmar tidak bebas,” ujar Adler dalam keterangannya.

Pengacara pembela Than Zaw Aung mengatakan para jurnalis masih dapat mengajukan banding ke Mahkamah Agung ibukota Nay Pyi Taw dalam tempo dua bulan.

AS menyuarakan kekecewaan mendalam atas keputusan itu, dengan mengatakan, “Putusan itu menimbulkan keraguan tidak hanya pada kebebasan berekspresi di Burma, tapi juga menimbulkan pertanyaan soal komitmen Burma terhadap aturan hukum.

“Kami akan terus mengadvokasi di semua tingkatan untuk pembebasan yang adil dari para jurnalis pemberani,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Robert Palladino dalam sebuah pernyataan yang menggunakan nama pemerintah AS untuk Myanmar.

Ribuan Rohingya tewas

Rohingya, yang digambarkan PBB sebagai orang yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan akan serangan meningkat sejak belasan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.

Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya tewas oleh pasukan negara Myanmar, menurut Ontario International Development Agency (OIDA).

Dalam laporan yang terbit baru-baru ini berjudul Migrasi Paksa Rohingya: The Untold Experience, OIDA menaikkan perkiraan jumlah Rohingya yang terbunuh menjadi 23.962, bertambah 881 orang.

Lebih dari 34.000 Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, menambahkan bahwa 17.718 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Lebih dari 115.000 rumah Rohingya juga dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambah dia.

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar. Dalam sebuah laporan, penyelidik PBB mengatakan pelanggaran seperti itu bisa jadi merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

* Michael Hernandez berkontribusi pada laporan ini dari Washington

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA