Mata uang Thailand diperkirakan akan lebih menguat pada 2020

Pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2020 jadi faktor kunci penurunan nilai dolar

Mata uang Thailand diperkirakan akan lebih menguat pada 2020

Kasikornbank (KBank) memprediksi nilai tukar bath terhadap dolar Amerika Serikat naik 29,25 pada akhir 2020, karena masalah struktural di AAAS dan ketidakpastian eksternal.

Baht diperkirakan akan melewati 30 hingga 29,75 per dolar pada paruh pertama tahun depan, naik dari 30,50 yang diprediksi pada akhir tahun ini. Sebelum menguat lebih lanjut ke 29,25 pada akhir 2020, kata Kobsidthi Silpachai, kepala modal riset pasar KBank.

Ketegangan perdagangan AS dan Cina, pemilihan presiden AS, penurunan suku bunga Cadangan Federal dan Brexit adalah faktor kunci yang menekan dolar di seluruh dunia, kata dia.

Perang dagang ini diperkirakan terus berlanjut dan dapat meningkat ketika pemilihan presiden semakin dekat.

Baht adalah mata uang berkinerja terbaik di Asia, naik sekitar 7 persen terhadap dolar tahun ini, karena investor menganggapnya sebagai tempat yang aman selama perlambatan ekonomi global.

Kobsidthi memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga kebijakan dua kali - sekali pada paruh pertama tahun depan dan lagi pada kuartal ketiga - sehingga melemahkan dolar relatif terhadap baht.

Ketidakseimbangan ekonomi Thailand akan semakin memperkuat baht terhadap greenback (sebutan lain untuk dolar) katanya, dan transaksi berjalan akan terus memiliki surplus USD 30 miliar tahun depan.

Meskipun penurunan suku bunga Fed diperkirakan akan berlanjut, Kobsidthi mengesampingkan kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut di Thailand tahun depan, mengingat ruang kebijakan terbatas.

KBank memiliki pandangan yang tidak terlalu optimistis pada pertumbuhan PDB tahun depan, memprediksi penurunan menjadi 2,7 persen pada 2020 dari 2,8 persen tahun ini.

"Resesi teknis ekonomi menjulang selama kuartal ketiga," kata Kobsidthi. "Tanpa penyesuaian musiman, tingkat pertumbuhan PDB untuk kuartal ketiga akan berkontraksi secara triwulanan."

Menurut dia, kebijakan fiskal adalah alat yang lebih baik untuk mendukung momentum ekonomi negara dan mengelola nilai tukar mata uang asing daripada kebijakan moneter, kata dia.

Efisiensi kebijakan moneter biasanya terlihat selama siklus ekonomi yang sedang turun, sehingga langkah-langkah bank sentral baru-baru ini memiliki sedikit manfaat untuk baht.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA