Mantan auditor negara Malaysia: Saya ditekan untuk amandemen laporan 1MDB

Saya telah menyampaikan pendapat sebagai auditor jenderal namun mereka tak memedulikan, ujar Sri Ambrin Buang

Mantan auditor negara Malaysia: Saya ditekan untuk amandemen laporan 1MDB

Mantan auditor negara Malaysia Sri Ambrin Buang mengungkapkan dia memperoleh tekanan untuk menyetujui amandemen laporan audit 1Malaysia Development Bhd (1MDB) sebelum diajukan ke Komite Akun Publik (PAC).

Dalam rapat laporan audit 1MDB yang digelar pada 24 Februari 2016, Ambrin telah menyampaikan pendapatnya sebagai auditor jenderal namun mereka tak memedulikan

“Saya tidak ada pilihan, saya di bawah tekanan untuk melakukan amandemen,” ujar Ambrin, dalam persidangan bersama mantan Perdana Menteri Najib Razak dan CEO 1MDB Arul Kanda Kandasamy, pada Kamis, seperti dikutip The Star.

Pertemuan itu, kata Ambrin, dihadiri oleh mantan kepala sekretaris pemerintah Ali Hamsa, Arul Kanda dan perwakilan lembaga terkait.

Pertemuan menyepakati soal empat masalah yang harus dihapus dari laporan audit, ujar Ambrin.

Termasuk dua laporan keuangan yang saling bertentangan dan kehadiran Low Taek Jho pada pertemuan 1MDB, meskipun dia tak memiliki posisi resmi di perusahaan.

Sidang menuding Najiblah yang memerintahkan amandemen laporan audit akhir itu demi mengamankan posisinya.

Sedang Arul Kanda dituduh bersekongkol dengan Najib.

Ada tiga sidang yang dijadwalkan terkait skandal kasus korupsi pengelolaan dana pemerintah 1MDB senilai USD4,5 miliar.

Pertama adalah sidang Najib, dengan tujuh tuduhan penyelewengan RM42 juta atau USD10 juta dari SRC Internasional.

Sidang ini akan digelar pada 3 Desember 2019, dengan kehadiran Najib sebagai saksi.

Sidang kedua adalah 25 tuduhan atas dana gelap hampir USD700 juta di rekening pribadi Najib. Sidang ini akan berlanjut pada 6 Januari 2020.

Dan sidang ketiga soal amandemen auditor jenderal. Sidang ini akan berlanjut 9 Januari tahun depan.

Skandal mengganjal Najib

Skandal ini menjadi ganjalan bagi Najib saat maju dalam pemilihan umum Mei 2018 lalu.

Najib kalah oleh kubu oposisi, koalisi yang dipimpin Mahathir Mohammad dan mantan Wakil Perdana Menteri Anwar Ibrahim.

Anwar merupakan bekas tahanan politik semasa kepemimpinan Mahathir dan Najib.

Mahathir yang sudah pensiun, rela kembali ke kancah politik demi menginvestigasi gurita skandal yang melibatkan sederet tokoh penting di jagat internasional.

Najib membangun perusahaan investasi milik negara 1MDB pada 2019.

Perusahaan ini bertujuan untuk mendorong investasi dan menstimulasi perekonomian Malaysia.

Fokus proyeknya, pembangunan strategis di bidang energi, properti, pariwisata dan agribisnis.

Saat itu, Najib menjadi kepala dewan penasehat hingga 2016.

Karena keterbatasan, pembentukan 1MDB tak menggunakan cadangan devisa bank sentral, seperti umumnya pengelolaan dana pemerintah.

Pemerintah menggalang dana lewat penjualan obligasi, sekaligus membangun usaha gabungan dengan pihak asing, lewat koneksi Low Taek Jho, cucu konglomerat Penang yang memiliki banyak koneksi di luar negeri.

Sayangnya uang tersebut dimanfaatkan untuk pencucian uang dan memperkaya para petinggi perusahaan.

Departemen Kehakiman AS mengatakan setidaknya USD4,5 miliar dana 1MDB ditransfer ke akun-akun bank di luar negeri dan perusahaan cangkang.

Sebagian besar dana itu masuk ke rekening bank Low Taek Jho yang terkenal suka bergaya hidup mewah.

Low dan rekan-rekannya membeli rumah mewah di London, Los Angeles dan New York.

Low juga membeli pesawat jet dan saham di EMI Music Publishing.

Dari tangan Low, aliran dana ini juga masuk ke kantong-kantong selebriti terkenal, di antaranya Leonardo Dicaprio dan model Australia Miranda Kerr.

Dicaprio menerima lukisan mahal karya Picasso seharga USD3,2 juta.

Sementara Kerr menerima perhiasan mewah senilai USD80 juta.

Keduanya mengembalikan barang-barang mewah ini setelah kasus korupsi 1MDB mencuat ke permukaan.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA