Layanan fintech bisa jembatani kesenjangan keuangan di Asia Pasifik

Namun teknologi juga mempercepat penularan kejadian keuangan yang negatif di satu negara

Layanan fintech bisa jembatani kesenjangan keuangan di Asia Pasifik

Layanan financial technology (fintech) bisa menjadi peluang baru menjembatani kesenjangan keuangan masyarakat yang tidak terlayani di Asia Pasifik, ungkap Asian Development Bank (ADB), Rabu.

Wakil Presiden ADB untuk Manajemen Pengetahuan dan Pembangunan Berkelanjutan Bambang Susantono teknologi memiliki potensi yang bisa mengatasi hambatan lama dan membuat kemajuan nyata dalam memperluas akses keuangan.

Menurut dia, mengatakan masyarakat harus disiapkan untuk menerima gelombang technologi ini, namun pemerintah juga harus memastikan kebijakan yang tepat dalam mengantisipasi risikonya.

“Kita perlu mencari cara untuk memastikan teknologi baru inklusif secara finansial.

“Tetapi kita juga perlu memastikan keamanan informasi, data, perlindungan konsumen, dan stabilitas keuangan berada di pusat persiapan untuk layanan keuangan digital,” ujar dia dalam siaran pers.

ADB hari ini menggelar Forum Keuangan yang akan membahas perkembangan dunia finansial. Ini adalah forum ketiga yang digelar oleh ADB, mengumpulkan sekitar 500 peserta inovator fintech, perusahaan teknologi, bank, regulator, dan pakar berbagai keahlian.

Menurut ADB ada sekitar 1,7 miliar orang di seluruh dunia tidak memiliki akses perbankan formal dan sistem keuangan, separuhnya ada Asia Pasifik.

Penyebabnya adalah mereka tinggal di lokasi terpencil, kurangnya identitas atau jaminan, biaya tinggi, dan layanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan perbankan.

“Fintech dapat memberikan solusi untuk tantangan seperti itu, tapi juga membawa beberapa risiko. Pasar keuangan Asia semakin saling terhubung baik secara regional maupun global.”

Menurut dia teknologi digital bisa mempercepat penularan dari kejadian negatif di satu negara. Dengan demikian, regulator dan otoritas keuangan lainnya di Asia Pasifik harus bekerja sama dan mengkoordinasikan pengawasan mereka terhadap fintech.

ADB menurut Bambang meluncurkan perbankan berbasis cloud di Manila.

Selain itu menggarap alat akses digital melalui penggunaan sistem ID biometrik di Papua Nugini dan menyediakan akses ke layanan keuangan bagi orang-orang tanpa dokumen formal.

ADB juga telah mengimplementasikan proyek percontohan asuransi tanaman berbasis indeks cuaca untuk lebih dari 9.500 petani padi kecil di Bangladesh.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA